Tuesday, 24 December 2013

Ada Apa denganmu, Intan?

Ada apa denganmu, Intan?

Kau duduk terpaku sendirian. Meringkuk di tengah keramaian. Kesepian? Bukankah itu ironi?

Di depanmu gadis-gadis remaja sibuk bercanda; melirik remaja lelaki yang tampan di depan mereka, saling berbisik, saling tertawa genit. Di kananmu sepasang muda mudi sedang memadu kasih; saling metatap hangat khas orang yang sedang di mabuk cinta. Di kirimu seorang ibu menggendong anaknya, di dampingi suami yang begitu siaga. sangat terlihat raut kebahagiaan di wajah mereka. Dan dibelakangmu, sepasang kakek nenek duduk bersebelahan. Tangan kanan si kakek merangkul bahu si nenek. Sedangkan tangan kirinya memegang tangan istrinya itu. Duhai, mesra sekali.

Sunday, 15 December 2013

Quotes: Sunset Bersama Rosie

Sudah lama sekali selesai baca novel ini. Tapi baru sekarang sempat nge-posting di blog. Let's check it out. :)

"Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji kehidupan muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan."

"Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan."

"Tidak ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang"
"Mawar akan tumbuh di tegarnya karang jika Kau menghendaki"

"Membutuhkan seluruh kesibukan untuk membunuh semua perasaan yang terlanjur datang. Terlanjur? Benar-benar keterlanjuran yang hebat, dua puluh tahun lamanya perasaan itu menelikung hatiku."

"Bukankah semua itu sederhana? Bukankah masalah itu amat sederhana? Meski harus membuat hatiku lebur berkeping-keping."

"Aku tidak tahu apa perasaan itu. Yang aku tahu, aku selalu merasa senang bersamamu. Merasa tentram dari segala galau. Merasa damai dari semua senyap. Aku merasa kau membuatku setiap hari lebih baik. Menumbuhkan semangat, memberikan energi."

"Hanya waktu yang selalu berbaik hati mengobati kesedihan."

"Kata orang bijak, kita tidak pernah merasa lapar untuk dua hal. Satu, karena jatuh cinta. Dua, karena kesedihan yang mendalam."

"Aku harus segera menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik."

"Hidupnya (yang amat lama) dan hidup orang-orang yang dicintainya (yang amat sebentar) --ini tentang Oma

"Besok saat matahari muncul, semoga semua kesedihan ini berkurang sedikit. Sedikit saja, Tuhan, tidak perlu muluk-muluk."

"Menangis dalam tidur. Sungguh lebih menyakitkan. Kalian tidur, tapi menangis dalam mimpi. Kalian tidur, tapi hati terisak sendu."

"Tidak ada yang bisa membantu selain waktu. Tetapi agar waktu berbaik hati, kita harus berbaik hati kepadanya, dengan menyibukkan diri. Sendiri hanya mengundang rasa sesal. Sepi hanya akan mengundang lipatan-lipatan kesedihan lainnya."

"Aku dulu juga dalam situasi tertentu bahkan ingin menggilakan diri. Saat menatap langit-langit kamar. Ingin menggilakan diri saat menyadari aku tidak akan pernah punya kesempatan."

"Aku menginginkanmu. Itu benar. Aku teramat menginginkanmu. Maksudku dalam artian positif. Menginginkanmu menjadi teman hidup. Melalui hari demi hari bersama-sama. Menjejak sudut-sudut kebahagiaan dan mungkin juga pahit-getir kehidupan. Tapi aku tidak mengharapkanmu, aku bersiap melepas semua perasaan ini kalau kau ternyata tidak menginginkannya, melupakannya meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya, mungkin tidak akan pernah bisa."

"Andai kata aku diberi kekuatan untuk membalik dunia, maka aku akan melakukannya, menyampaikan perasaan cinta itu jauh-jauh hari. Sebelum semuanya terlambat."

"Tetapi menatap wajah Anggrek, Om jadi tahu bahwa disini selalu ada janji kebahagiaan. Menatap wajah Sakura, Uncle jadi tahu disini ada semangat hidup. Menatap wajah Jasmin, wajah Lili, Paman jadi tahu, Kalau Paman akan selalu bersama kalian. Berjanjilah, Nak, kalian akan menjalani semua ini dengan riang." --terharu

"Kau tidak akan pernah mendapatkan seseorang kalau kau terlalu mencintainya."

"Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya."

"Berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Berdamai bukan melupakan."

"Dua puluh tahun dari sekarang, kau akan menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kamu kerjakan dibandingkan atas apa-apa yang kau kerjakan."

"Masalah ini bukan soal waktu. Waktu akan mengkhianati semuanya. Semakin lama, semakin sakit." --ini kata Sekar. Oh, poor Sekar.

"Cinta itu persahabatan. Semakin mengenal Anggrek dengan seseorang, maka semakin cinta Anggrek dengannya."

"Lihatlah aku sekarang! Aku tetap hidup. Melalui masa-masa lima tahun yang menyakitkan itu. Padahal kau tahu, semua itu sungguh menyakitkan, karena aku tidak pernah tahu kau pernah sekalipun mencintaiku atau tidak."

"Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kaki kita jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri."

"Mereka akan kembali. Kembali ke takdir pasangannya. Karena itulah janji setia penyu. Terucapkan saat kaki-kaki kecil mereka, kaki-kaki kanak-kanak mereka menuju lautan lepas. Janji setia pada takdir pasangannya."

"Untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal yang mnyakitkan. Misalnya kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan."


Gambar diambil disini

Rindu: Kenangan

Akan ada suatu keadaan yang memaksamu berhenti sejenak. Menghirup napas tertahan. Dada tiba-tiba berdesir. Rasa yang tiba-tiba menyergapmu. Menyesakkanmu. Iya, rasa  itu bernama rindu.

Rasa yang membawamu mampir sejenak ke memori masa lalu. Saat bersama mereka yang pernah (hampir) setiap hari mengukir senyum di bibir. Mengingat kembali masa-masa yang telah lama terlewat. Mengingat mereka yang (mungkin) pernah menorehkan luka. Mengingat suasana yang begitu menyenangkan -- yang saat ini tidak bisa dirasakan lagi. Mengejanya kembali satu persatu. Seperti mere-run kaset lama yang telah usang. Sedikit tercekat saat mampir ke memori menyedihkan. Mengutuk diri kenapa bisa seperti itu? Lalu dengan sekuat hati berjalan kembali; mengingat masa-masa bahagia. Tersenyum-senyum sendiri mengingatnya, Andai waktu bisa diputar lagi.

Friday, 2 August 2013

Cinta Dalam Diam

Ada kalimat yang ngena banget

"Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan. Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan. Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa dia akan sempat membacanya. Semoga datangkah pemahaman yang baik. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman yang baik." -Tere Liye, buku "Berjuta Rasanya"-

Wednesday, 12 June 2013

Nota Retur dan Nota Pembatalan


·         Dasar Hukum
Pembuatan nota retur dan nota pembatalan ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang Dikembalikan dan Pajak Pertambahan Nilai atas Jasa Kena Pajak yang Dibatalkan.

·         Pengertian
-          Nota Retur adalah nota yang dibuat oleh penerima BKP (Barang Kena Pajak)/JKP (Jasa Kena Pajak) karena adanya pengembalian atas BKP/JKP yang telah dibeli/ diterimanya.
-         

Friday, 22 March 2013

Pelajaran di Pagi Hari

Belajar itu bisa dari siapa aja dan kapan aja. Kadang kita justru tidak menyadari bahwa hal kecil pun bisa mendatangkan hikmah. Hari ini aku belajar. Belajar dari dua anak lelaki. Pagi itu, saat aku baru turun dari angkutan umum, aku melihat mereka berkeliaran di tepi jalan. Mereka sedang mengambil kardus bekas. “Mungkin mereka adalah pemulung”, pikirku. Tapi ternyata dugaanku sedikit meleset. Jadi, gini, di tepi jalan itu kan berjejer toko-toko. Di situ ada dua kios pulsa.  Nah, di situlah orang-orang sering singgah untuk beli pulsa. Saat itulah dua anak itu beraksi. Eits, jangan mikir aneh2 ya? Maksudnya, mereka langsung menaruh potongan kardus itu di atas jok motor pengendara. Istilahnya tukang parkir liar. Kalau sedang beruntung – dan kalo yang punya motor itu berbaik hati – mereka diberi uang. Nah kalo nggak, yaudah, mereka cari ‘pangsa’ baru. Awalnya, aku hanya memperhatikan mereka dari kejauhan – sambil tertawa. Penasaran, pelan aku mendekati mereka. Mulai bertanya,

“Dek, sini deh.” 

“Apa, kak?” 

“Kamu gak sekolah?”

“Sekolah, Kak. Masuk siang.”

“Owh syukurlah. Terus orang tua  kalian dimana?”

“Di rumah kak.”

“Owh, jadi disini ngapain?” pertanyaan bodoh. Jelas-jelas mereka nyari uang.

“Cari uang kak.” Tuh kan

“owh yaudah, ini untuk kalian. Bagi dua ya?” kataku sembari memberi mereka sedikit uang. Lega sekali melihat Mereka tersenyum

“Makasih kak.”

Setelah itu mereka tidak langsung kembali melanjutkan ‘aktivitas’, melainkan berdebat mengenai pembagian uang. Haha, lucu sekali.

Salut dengan mereka. Masih kecil, namun sudah pandai cari uang. Tentu uang yang halal. Bersyukur karena mereka masih bersekolah. Di luar sana, banyak anak-anak terlantar yang hidup di jalan dan tidak bersekolah.

Bersyukur lagi karena – meskipun dari keluarga yang sederhana – ketika kecil dulu hingga lulus SMA aku gak pernah repot-repot bekerja mencari uang. Tinggal bersekolah dengan rajin. Hanya itu. Terima kasih Tuhan karena telah membuat mata ini menjadi terbuka.. ^^

Oke, That’s All. Thanks for reading. Semua yang saya tulis ini semata-mata untuk berbagi. Semoga bisa mengambil hikmah dari kisah sederhana ini. Aamiin.

Tuesday, 26 February 2013

Quotes: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (The Falling Leaf Doesn’t Hate The Wind)


Saya  baru selesai membaca novel bang Tere Liye yang satu ini. Gak pernah nyesal deh kalo baca novel yang ditulis dari hati. Novel bang Tere selalu T.O.P..

Novel ini menceritakan tentang Tania dan adiknya, Dede, juga Danar. Saya gak bias merangkum semua isi novel ini. Tapi dari 256 halaman di novel ini, saya mendapat beberapa quotes.

Well, inilah quotes-nya

“Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih sekalipun.”

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya, membawanya entah kemana.”

“Pria selalu punya ruang tersembunyi di hatinya. Tak ada yang tahu, bahkan percayakah kau, ruang sekecil itu jauh lebih absurd daripada seorang wanita terabsurd sekalipun.”

“Ada banyak kebaikan yang justru menikam, menyakitkan pemberinya.”

“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”

“Kau tak pernah mau mengakuinya. Kau membunuh perasaan itu seketika tanpa ampun saat pertama kali bersemi. Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kau pangkas. Bersemi satu langsung kau injak. Menyeruak satu langsung kau cabut tanpa ampun. Kau tak pernah memberikan kesempatan. Karena itu tak mungkin bagimu. Kau malu mengakui walau kau sedang sendiri.”

“Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kau pangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kau injak, helai daunnya semakin banyak.”

“Dan, dan kau menyiram mati hingga ke akar-akarnya. Kau membakarnya habis.”

“Kebaikan itu seperti pesawat terbang. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.”

“ibu sedang menyiapkan banyak hal disana. Seperti saat pagi-pagi ibu menyiapkan sarapan untuk Dede dan Tania. Nanti kalau ibu sudah siap, kita juga akan pergi kesana suatu saat. Sekarang kita hanya akan menunggu saja. Ibu akan datang seperti saat membangunkan kalian pagi-pagi untuk bersiap berangkat sekolah, tetapi belum waktunya tiba. Kita harus pulang ke rumah malam ini. Tidur yang nyenyak, esok pagi bangun melanjutkan kehidupan. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dengan ibu. Dia pasti akan menjemput.”


“Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang amat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna. Hanya cinta yang sempurna.”

“Kehidupan tidak selalu baik kepada orang-orang yang baik”

“daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”