Thursday, 31 May 2012

HUJAN

Kemarin, 30 Mei 2012



Di kamar, saat hujan deras.



      Banyak hal yang kutakutkan di dunia ini. Salah satunya hujan. Sebenarnya aku menyukai hujan. Karena, menurutku, saat hujan terasa ada musik yg bisa membuat tidur menjadi pulas. Aku juga suka gerimis yang kata orang romantis. Tapi, bukankah gerimis biasanya merupakan suatu aba-aba untuk hujan yg lebih deras lagi? Nah, itu yg kutakutkan. Aku takut dengan hujan yg sangat deras, disertai angin kencang, dan diselingi dengan petir yg bersaut-sautan.


     Saat itu terjadi, apalagi di malam hari, aku suka parno. Aku takut saat aku tidur tiba-tiba terasa basah (baca: banjir). Aku takut tsunami tiba-tiba datang (apa hubungan tsunami dengan hujan?). Saat main handphone, tiba-tiba petir memberi kejutan, duarr!, aku takut jadi gosong karena tersambar (naudzubillah). Dan masih banyak pikiran aneh lainnya.




     Kata guru fisika smpku dulu, Balikpapan merupakan kota petir. Nah, kalo petirnya guede banget suaranya. Aku kadang bertanya-tanya, "Ya Allah, apakah engkau sedang marah?". "Kalo emang marah, Engkau marah sama siapa?". "Apakah kepadaku, karena aku sering melalaikan perintahmu?". Yeah, mungkin saja Allah marah. Padaku, atau pada orang lain yg sering melupakan-Nya. Maka, selain menakutkan, hujan juga bisa dijadikan moment untuk introspeksi diri dan memohon ampunnya. :D



     Terlepas dari segala ketakutan, yang utama hujan merupakan berkah. Berkah bagi petani untuk mengairi sawahnya, dan tentunya berkah bagi dunia, bagi kita semua. Berkah itu diberikan ALLAH melalui perantara Malaikat-Nya, Mikail. Hujan merupakan berkah yg tiada tara. Bayangin, kalo di dunia ini gak pernah ujan seminggu aja. Wah, bisa gila kegerahan dan kekeringan. Maka, bersyukurlah. Alhamdulillah. :D

Tetaplah Disana

Cita-cita itu masih menggantung. Entah kapan akan diraih. Ia terlalu tinggi, tinggi! Dengan apa akan meraihnya? Ingin terbang. Namun, sayap-sayapnya belum kuasa membawa tubuh untuk menggapai cita-cita itu.


Cita-cita itu masih menggantung indah di atas sana. Menatap dengan penuh harap seakan berkata, ''kemarilah!Gapailah aku!" dalam hati si punguk ini balas berkata, "sungguh, aku ingin sekali menggapaimu. Tunggulah aku."



Si punguk pun terdiam. Ia tak mau lagi dijuluki "Si Punguk merindukan bulan". Iya terus berpikir dan berpikir. Satu detik, dua detik, satu menit, dua menit. Ah, entah berapa lama dia berpikir. Sampai akhirnya tampak senyuman di wajahnya. Senyum penuh arti. Senyum harap di tengah suasana genting himpitan ekonomi. Senyum optimis. Ia tetap tersenyum. Tak bersuara, namun ku yakin hatinya berteriak, "AKU BISA! CITA-CITA, TETAPLAH DI SANA. JANGAN PERNAH LELAH UNTUK SELALU ADA DI HATIKU, MENJADI PENYEMANGAT SETIAP LANGKAH KAKIKU. TETAPLAH DISANA HINGGA KU SANGGUP UNTUK BENAR-BENAR MERAIHMU!"

D I A M

For someone, wherever you are.

Kamu tau gak gimana sensasi mencintai dalam DIAM?

Ya, mencintai tanpa seorang pun yang tau.
Mencintai untuk dipendam dalam hati.
Mencintai tanpa berharap terlalu banyak agar terbalaskan.

Rasanya beraneka warna.

Indah. Namun, kadang menyesakkan.


Indah, karena cinta itu dititipkan kepada-Nya. Karena hanya Dia yg tau apa yang terbaik untuk diri ini.
Indah, karena tak perlu bersusah-susah memberitahukanmu agar kamu tau. Karena ada Dia Yang Maha Tahu.
Indah, karena menempatkan cinta itu pada tempat yg semestinya, yaitu dalam DIAM. Hanya hati ini dan Allah yg tahu.
Indah, karena tak perlu takut kehilanganmu. Karena tahu bahwa kamu bukan milik ku.

Namun, terkadang ada batu besar yg menyesakkan hati.

Saat rindu menggebu.
Saat hanya bisa memandangmu dari kejauhan.
Saat hanya bisa tertunduk ketika kamu lewat.
Saat lidah ini kaku untuk sekedar menyapamu.
Saat bibir ini tak punya daya untuk sekedar tersenyum kepadamu.
Saat mata ini tak sengaja melihatmu bersama seseorang disana.
Saat semua rasa itu mengepung hati.
Saat semua rasa itu tak mampu lagi dibendung dan ingin diluapkan.

Namun, tertahan oleh rasa yang bernama MALU.


Jadi, tak ada yg mampu untuk dilakukan selain mencintai dalam DIAM. Memberikan perhatian lewat DOA.

Izinkan aku menikmati sensasi cinta ini dalam DIAMku.
Dan biarlah cinta itu kutitipkan pada-Nya, Tuhan Yang Maha Cinta.