Cita-cita itu masih menggantung. Entah kapan akan diraih. Ia terlalu
tinggi, tinggi! Dengan apa akan meraihnya? Ingin terbang. Namun,
sayap-sayapnya belum kuasa membawa tubuh untuk menggapai cita-cita itu.
Cita-cita itu masih menggantung indah di atas sana. Menatap dengan
penuh harap seakan berkata, ''kemarilah!Gapailah aku!" dalam hati si
punguk ini balas berkata, "sungguh, aku ingin sekali menggapaimu.
Tunggulah aku."
Si punguk pun terdiam. Ia tak mau lagi dijuluki "Si Punguk
merindukan bulan". Iya terus berpikir dan berpikir. Satu detik, dua
detik, satu menit, dua menit. Ah, entah berapa lama dia berpikir. Sampai
akhirnya tampak senyuman di wajahnya. Senyum penuh arti. Senyum harap
di tengah suasana genting himpitan ekonomi. Senyum optimis. Ia tetap
tersenyum. Tak bersuara, namun ku yakin hatinya berteriak, "AKU BISA!
CITA-CITA, TETAPLAH DI SANA. JANGAN PERNAH LELAH UNTUK SELALU ADA DI
HATIKU, MENJADI PENYEMANGAT SETIAP LANGKAH KAKIKU. TETAPLAH DISANA
HINGGA KU SANGGUP UNTUK BENAR-BENAR MERAIHMU!"
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)