Apa
kabar, kamu? Sudah lima tahun berlalu, namun jejakmu pun masih samar
kurasakan..
Lagi, aku bermonolog dalam hati. Ya, tiba-tiba kau
mengingatnya. Tapi kali ini nggak disertai rasa sesak karena rindu. Aku memang
sering begini, tiba-tiba teringat dengan orang-orang yang pernah ada di
hidupku. Lalu mendoakan untuk kebahagiaan mereka. Hanya sebatas itu. Seperti
saat ini. Aku seperti biasa duduk sendiri di bangku taman kampus, favoritku.
Menikmati udara sejuk dari pohon-pohon di sekitar taman. Sambil membaca novel
ditemani musik favoritku.
“Kinara.” Tiba-tiba sapaan lembut itu
mengagetkanku. Kenapa terasa begitu nyata? Ah nggak mungkin. Aku geleng-geleng
kepala sambil masih menutup mataku.
“Kinara.” Lagi? Perlahan kubuka mataku, dan..
sosokmu sudah duduk santai menghadapku. Kenapa bisa? Ini nyata? Aku
yang masih belum sepenuhnya percaya, sibuk mengucek mataku. Berharap aku bangun
dari mimpiku. Tapi, sosokmu nggak juga menghilang.
“Aku mau bicara sebentar, boleh?” Tanyamu kemudian.
Kamu masih nggak berubah. Menghilang seenaknya, datang pun seenaknya.
“Hmm, ya boleh.” Aku mulai bisa mengontrol diriku.
Aku tarik napasku perlahan. Berusaha untuk setenang mungkin. Oh, ternyata ini
nyata. Ya Tuhan.
Semenit berlalu. Dua menit. Lima menit. Kamu masih
diam. Agak canggung. Aku pun juga canggung. Bagaimana tidak canggung setelah
lima tahun tidak bertemu, lalu tiba-tiba bertemu yang – menurutku – tanpa
direncanakan seperti ini? Kamu memperbaiki posisi dudukmu. Sekali-dua kali
menatap, oh ternyata ada Yuta sahabatmu, yang berdiri tidak jauh dari kita. Aku
mulai menutup buku yang kubaca. Menunggu kalimat yang ingin kamu bicarakan,
tentunya dengan hati yang berdebar.
“Apa kabar?” Dua kata pemecah keheningan dari
bibirmu.
“Seperti yang kamu lihat, Alhamdulillah baik”
“Mmm, aku juga baik. Yuta juga baik.” Jawabmu tanpa
kutanya. Aku sengaja nggak bertanya, dulu bukannya kamu juga nggak balik tanya
waktu aku menanyakan kabarmu? Diam-diam aku ingin tertawa dengan sikapmu itu.
Yuta yang kini tidak berdiri tapi sudah duduk di sebelah bangku kita
mati-matian menahan tawanya.
“Ada hal penting yang mau aku bicarakan.” Lanjutmu
dengan mimik yang sangat serius. Nggak pernah aku melihatmu seserius ini. Ada
apa? Aku mulai penasaran.
“Maaf.”
“Untuk?” Dahiku mengkerut. Bingung.
“Maaf waktu itu nggak balas pesanmu.. dan.. maaf
karena sudah menghilang tanpa jejak. Maaf.” Jawabmu sambil
menatap langit yang entah kenapa mendungnya terasa aneh – “Tapi, aku nggak
pernah benar-benar menghilang. Bahkan aku tahu kalau kemarin kamu memakai baju
berwarna merah muda, dengan jilbab berwarna lembut” kamu menarik napas panjang
“Aku benar-benar tak pernah menghilang.” Lanjutmu sambil menatap lekat kedua
mataku. Aku masih tertegun. Masih bertanya-tanya – Apa maksudnya ini?
“Lihat, langitnya masih sama ya? Semendung ketika
kita berpisah dulu.” Katamu menunjuk langit yang entah kenapa tiba-tiba menjadi
mendung itu. Iya, waktu itu langit sama mendungnya seperti hari ini. Tiba-tiba
saja ingatanku terlempar ke lima tahun yang lalu, saat kita berpisah – tanpa
senyum apalagi sapa. Aku hanya bisa diam-diam memandang punggungmu yang perlahan
menghilang. Lalu, sejak itu kita tak pernah lagi bertemu.
Kamu kembali membenarkan posisi dudukmu. Kembali
menatap lekat kedua mataku.
“Aku.. Aku kesini bukan tiba-tiba. Aku.. Aku sudah
lama merencanakan ini semua sejak.. sejak pertama kali aku mulai menyukaimu.”
What? This is not a dream, is this? Aku sontak
terkejut. Dia menyukaiku? Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari segala penantianku?
Mengapa baru sekarang?
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)