Wednesday, 21 May 2014

DIA: Finally.. We Meet

Apa kabar, kamu? Sudah lima tahun berlalu, namun jejakmu pun masih samar kurasakan..


Lagi, aku bermonolog dalam hati. Ya, tiba-tiba kau mengingatnya. Tapi kali ini nggak disertai rasa sesak karena rindu. Aku memang sering begini, tiba-tiba teringat dengan orang-orang yang pernah ada di hidupku. Lalu mendoakan untuk kebahagiaan mereka. Hanya sebatas itu. Seperti saat ini. Aku seperti biasa duduk sendiri di bangku taman kampus, favoritku. Menikmati udara sejuk dari pohon-pohon di sekitar taman. Sambil membaca novel ditemani musik favoritku.

“Kinara.” Tiba-tiba sapaan lembut itu mengagetkanku. Kenapa terasa begitu nyata? Ah nggak mungkin. Aku geleng-geleng kepala sambil masih menutup mataku.

“Kinara.” Lagi? Perlahan kubuka mataku, dan.. sosokmu sudah duduk santai menghadapku. Kenapa bisa? Ini nyata? Aku yang masih belum sepenuhnya percaya, sibuk mengucek mataku. Berharap aku bangun dari mimpiku. Tapi, sosokmu nggak juga menghilang.

“Aku mau bicara sebentar, boleh?” Tanyamu kemudian. Kamu masih nggak berubah. Menghilang seenaknya, datang pun seenaknya.

“Hmm, ya boleh.” Aku mulai bisa mengontrol diriku. Aku tarik napasku perlahan. Berusaha untuk setenang mungkin. Oh, ternyata ini nyata. Ya Tuhan.

Semenit berlalu. Dua menit. Lima menit. Kamu masih diam. Agak canggung. Aku pun juga canggung. Bagaimana tidak canggung setelah lima tahun tidak bertemu, lalu tiba-tiba bertemu yang – menurutku – tanpa direncanakan seperti ini? Kamu memperbaiki posisi dudukmu. Sekali-dua kali menatap, oh ternyata ada Yuta sahabatmu, yang berdiri tidak jauh dari kita. Aku mulai menutup buku yang kubaca. Menunggu kalimat yang ingin kamu bicarakan, tentunya dengan hati yang berdebar.

“Apa kabar?” Dua kata pemecah keheningan dari bibirmu.

“Seperti yang kamu lihat, Alhamdulillah baik”

“Mmm, aku juga baik. Yuta juga baik.” Jawabmu tanpa kutanya. Aku sengaja nggak bertanya, dulu bukannya kamu juga nggak balik tanya waktu aku menanyakan kabarmu? Diam-diam aku ingin tertawa dengan sikapmu itu. Yuta yang kini tidak berdiri tapi sudah duduk di sebelah bangku kita mati-matian menahan tawanya.

“Ada hal penting yang mau aku bicarakan.” Lanjutmu dengan mimik yang sangat serius. Nggak pernah aku melihatmu seserius ini. Ada apa? Aku mulai penasaran.

“Maaf.”

“Untuk?” Dahiku mengkerut. Bingung.

“Maaf waktu itu nggak balas pesanmu.. dan.. maaf karena sudah menghilang tanpa jejak. Maaf.” Jawabmu sambil menatap langit yang entah kenapa mendungnya terasa aneh – “Tapi, aku nggak pernah benar-benar menghilang. Bahkan aku tahu kalau kemarin kamu memakai baju berwarna merah muda, dengan jilbab berwarna lembut” kamu menarik napas panjang “Aku benar-benar tak pernah menghilang.” Lanjutmu sambil menatap lekat kedua mataku. Aku masih tertegun. Masih bertanya-tanya – Apa maksudnya ini?

“Lihat, langitnya masih sama ya? Semendung ketika kita berpisah dulu.” Katamu menunjuk langit yang entah kenapa tiba-tiba menjadi mendung itu. Iya, waktu itu langit sama mendungnya seperti hari ini. Tiba-tiba saja ingatanku terlempar ke lima tahun yang lalu, saat kita berpisah – tanpa senyum apalagi sapa. Aku hanya bisa diam-diam memandang punggungmu yang perlahan menghilang. Lalu, sejak itu kita tak pernah lagi bertemu.
Kamu kembali membenarkan posisi dudukmu. Kembali menatap lekat kedua mataku.

“Aku.. Aku kesini bukan tiba-tiba. Aku.. Aku sudah lama merencanakan ini semua sejak.. sejak pertama kali aku mulai menyukaimu.”

What? This is not a dream, is this? Aku sontak terkejut. Dia menyukaiku? Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari segala penantianku? Mengapa baru sekarang?

--- to be continued

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)