Monday, 19 May 2014

Dia Januari

Ini Januari kedua Januari menghilang tanpa kabar.

Dia Januari – sosok yang segala tentangnya begitu abu-abu. Apa kabar, kamu? Hebat sekali kau, menghilang setelah mengukir rasa di sini, hatiku. Bersembunyi dimana selama ini, hah? Tidak kah kau lelah berlari? Kumohon, berhentilah sejenak. Sejenak saja. Tak apa jika tak menetap disini. Tak apa jika hanya sekadar singgah. Tak apa jika masih sama seperti dulu, tanpa senyum apalagi sapa. Bukankah aku sudah sangat terbiasa dengan sisi gelapmu? Tak apa, cukup kau datang meski hanya semenit, itu sudah melegakan. Asal aku tahu kau baik-baik saja.

Januari, aku tak akan memaksamu memberi penjelasan mengapa kau menghilang. Biar waktu yang menjelaskannya padaku. Atau bila penjelasan itu tak kunjung datang, biar aku sendiri yang menyimpan tanya itu. Aku baik-baik saja, Januari. Meski terkadang aku berpikir kalau kamu jahat sekali. Kamu pergi. Kamu menghilang. Bahkan bayangmu saja tidak pernah kulihat lagi. Dan atau mungkin aku yang bodoh, menunggumu yang jelas-jelas (mungkin) tak pernah sedikitpun memikirkan aku? Ah, tapi entah mengapa, setelah kau pergi, menunggu sudah menjadi hobiku. Kau tahu? Sudah banyak bus yang berhenti menawarkan diri untuk menjemputku, tapi aku tidak gentar sedikitpun. Aku tetap menunggumu yang menjemputku. Ah, siapa kamu yang bisa membuatku seperti ini?


Januari, aku merindukanmu. Aku selalu mencarimu, diam-diam. Menghitung setiap detik yang kulewati tanpamu. Melewati jalan yang biasa kau lewati. Mendengar lagu yang kau sukai. Menyisipkan namamu di setiap sujud panjangku.


Januari, jika kelak kau lelah. Kau tahu dimana kau harus berhenti, bukan? Di halte itu, aku selalu ada.

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)