
Ini
Januari kedua Januari menghilang tanpa kabar.
Dia Januari – sosok yang segala
tentangnya begitu abu-abu. Apa kabar, kamu? Hebat sekali kau, menghilang
setelah mengukir rasa di sini, hatiku. Bersembunyi dimana selama ini, hah? Tidak
kah kau lelah berlari? Kumohon, berhentilah sejenak. Sejenak saja. Tak apa jika
tak menetap disini. Tak apa jika hanya sekadar singgah. Tak apa jika masih sama
seperti dulu, tanpa senyum apalagi sapa. Bukankah aku sudah sangat terbiasa
dengan sisi gelapmu? Tak apa, cukup kau datang meski hanya semenit, itu sudah
melegakan. Asal aku tahu kau baik-baik
saja.
Januari, aku tak akan memaksamu
memberi penjelasan mengapa kau menghilang. Biar waktu yang menjelaskannya
padaku. Atau bila penjelasan itu tak kunjung datang, biar aku sendiri yang
menyimpan tanya itu. Aku baik-baik saja, Januari. Meski terkadang aku berpikir
kalau kamu jahat sekali. Kamu pergi. Kamu menghilang. Bahkan bayangmu saja
tidak pernah kulihat lagi. Dan atau mungkin aku yang bodoh, menunggumu yang
jelas-jelas (mungkin) tak pernah sedikitpun memikirkan aku? Ah, tapi entah
mengapa, setelah kau pergi, menunggu sudah menjadi hobiku. Kau tahu? Sudah
banyak bus yang berhenti menawarkan diri untuk menjemputku, tapi aku tidak
gentar sedikitpun. Aku tetap menunggumu yang menjemputku. Ah, siapa kamu yang bisa
membuatku seperti ini?
Januari, aku merindukanmu. Aku selalu
mencarimu, diam-diam. Menghitung setiap detik yang kulewati tanpamu. Melewati
jalan yang biasa kau lewati. Mendengar lagu yang kau sukai. Menyisipkan namamu
di setiap sujud panjangku.
Januari, jika kelak kau lelah. Kau
tahu dimana kau harus berhenti, bukan? Di halte itu, aku selalu ada.
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)