Monday, 11 August 2014

Best Friend Series #1

Di setiap masa dalam hidup, kita akan selalu mengalami dua hal; pertemuan dan perpisahan. Bertemu seseorang yang baru, menjadi teman, sahabat, lalu berpisah, bertemu seseorang yang baru lagi, berteman, bersahabat, lalu berpisah, selalu begitu. Ah, aku benci kata P E R P I S A H A N. Tapi, seharusnya meski telah berpisah dan bertemu dengan teman baru, sahabat lama tetaplah sahabat, ‘kan? Ya, seharusnya.

Setelah bulan Mei, selalu disusul dengan bulan Juni. Tak pernah terpisah. Begitu pun aku dengan salah seorang sahabatku yang akan kuceritakan kepada kalian. Iya, dia lahir di bulan Mei, aku lahir di bulan Juni. Kami memang tak pernah terpisah waktu SMP dulu. Sama seperti sahabatku yang kuceritakan lebih dulu, aku dan sahabat perempuanku ini selalu satu kelas sejak kelas VII sampai kelas IX. Dia sahabatku yang sangat cerdas. Sudah kuberitahu kan, kalau sahabat-sahabatku di SMP itu cerdas-cerdas? Termasuk dia. 
Dia itu multi talented. Dia menguasai semua pelajaran. Kami sering sekali berdiskusi tentang pelajaran sekolah, terutama Matematika. Maklum, bukannya sombong lho, ya, salah satu mata pelajaran yang kukuasai itu ya matematika. Hehe. Aku tahu kemampuannya. Aku tahu dia sangat cerdas, lebih cerdas daripada aku. Sayang, guru-guru kurang melihatnya ketika itu. Dia tidak pernah diikutkan lomba sampai kelas VIII. Aku terkadang tidak enak hati sama dia, padahal dia itu cerdas sekali.

Karena sekelas selama tiga tahun, kami menjadi semakin dekat. Aku sering bermain dengan “geng”nya. Kedekatan kami berlanjut sampai kami lulus SMP. Kami juga menjadi sering smsan. Saling mendoakan, saling memberi semangat. Kami bahkan saling curhat. Dia curhat tentang lelaki yang dia suka, aku juga begitu. Dia dewasa. Dia selalu bisa memberi masukan yang bijak. Bersyukur sekali bisa mempunyai sahabat seperti dia.

Tapi, layaknya hukum alam, jarak selalu punya sejuta cara untuk merenggangkan persahabatan. Kami berbeda sekolah ketika SMA. Kami sibuk dengan sekolah kami masing-masing. Tidak sampai hilang komunikasi memang, kami masih cukup intens ber-sms ria, iya masih. Pertemuan saja yang menjadi tidak pernah. Hubungan kami masih baik-baik saja meski tidak pernah bertemu. Dia masih menjadi sahabatku yang baik.

Pada suatu ketika, hal yang tidak aku inginkan terjadi, menjadi. Kami menjadi begitu berjarak. Karena apa? Aku menyukai seorang pria – sebut saja dia Mr. X – semenjak  kelas IX SMP. Kami berpacaran ketika kami sama-sama duduk di kelas X SMK. Singkat cerita kami akhirnya putus karena suatu alasan. Apa yang kurasakan saat itu? Tentu sedih. Sedih sekali. Kesedihan itu aku curahkan ke banyak sahabatku, termasuk dia. Seperti biasa, dia selalu menjadi sahabat baikku. Hingga hari itu tiba, hampir setengah tahun aku putus dari Mr. X, aku masih memendam rasa, tapi Mr. X ingin berkenalan dengan sahabatku ini. Sebelumnya, sahabatku ‘minta izin’, boleh atau tidak, kalau aku tidak bolehkan juga tidak apa, katanya. Ah dia memang sahabat yang baik. Tapi, meski aku masih punya rasa ke Mr. X itu, bagaimana mungkin aku melarang sahabatku ini berkenalan dengan dia? Siapa aku?  Beberapa bulan berselang, pada suatu Ramadhan, sepulang dari buka bersama di rumah teman, sahabatku ini hampir menangis mengucapkan maaf. Tidak apa, kataku. Pada malam itu dia jujur kalau dia sudah jadian dengan Mr. X. Mau apa? Kita nggak bisa kan mengontrol hati kita? Aku sedih? Sedih memang. Tapi, aku merasa sahabatku ini jauh lebih baik dari aku. Aku justru lega. Legaa sekali.

Hal yang paling menyedihkan bukan karena dia jadian dengan Mr. X. Tapi, karena hubungan persahabatan kami menjadi begitu berjarak. Aku tak apa kehilangan laki-laki seperti dia. Tak apa. Tapi kehilangan sahabat sebaik dia, rasanya sedih sekali. Kami menjadi jarang sms-an, jarang sekali. Ketika reuni SMP, kami bertemu, tapi seperti ada sekat yang menghalangi kami. Ada tembok besar. Aku bertanya-tanya kenapa? Tapi tak ada jawaban yang muncul.

Baru awal tahun 2014 kemarin aku dapat jawabannya. Saat dia sudah putus dari Mr. X. Sesuai dugaanku, dia tidak enak padaku karena jadian dengan lelaki itu. Akhirnya kami malam itu saling curhat kembali. Saling terbuka kembali. Kini, tembok itu sudah rubuh. Kami menjadi bersahabat kembali. Terima kasih, Tuhan, sudah mengembalikan sahabatku.

By the way, kini dia menjadi wanita yang sangat sholehah. Subhanallah, aku iri ;)

Thanks for being my best :’

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)