Setelah bulan Mei, selalu disusul
dengan bulan Juni. Tak pernah terpisah. Begitu pun aku dengan salah seorang
sahabatku yang akan kuceritakan kepada kalian. Iya, dia lahir di bulan Mei, aku
lahir di bulan Juni. Kami memang tak pernah terpisah waktu SMP dulu. Sama
seperti sahabatku yang kuceritakan lebih dulu, aku dan sahabat perempuanku ini
selalu satu kelas sejak kelas VII sampai kelas IX. Dia sahabatku yang sangat
cerdas. Sudah kuberitahu kan, kalau sahabat-sahabatku di SMP itu cerdas-cerdas?
Termasuk dia.
Dia itu multi talented. Dia menguasai semua pelajaran. Kami sering sekali berdiskusi tentang pelajaran sekolah, terutama Matematika. Maklum, bukannya sombong lho, ya, salah satu mata pelajaran yang kukuasai itu ya matematika. Hehe. Aku tahu kemampuannya. Aku tahu dia sangat cerdas, lebih cerdas daripada aku. Sayang, guru-guru kurang melihatnya ketika itu. Dia tidak pernah diikutkan lomba sampai kelas VIII. Aku terkadang tidak enak hati sama dia, padahal dia itu cerdas sekali.
Dia itu multi talented. Dia menguasai semua pelajaran. Kami sering sekali berdiskusi tentang pelajaran sekolah, terutama Matematika. Maklum, bukannya sombong lho, ya, salah satu mata pelajaran yang kukuasai itu ya matematika. Hehe. Aku tahu kemampuannya. Aku tahu dia sangat cerdas, lebih cerdas daripada aku. Sayang, guru-guru kurang melihatnya ketika itu. Dia tidak pernah diikutkan lomba sampai kelas VIII. Aku terkadang tidak enak hati sama dia, padahal dia itu cerdas sekali.
Karena sekelas selama tiga tahun, kami
menjadi semakin dekat. Aku sering bermain dengan “geng”nya. Kedekatan kami
berlanjut sampai kami lulus SMP. Kami juga menjadi sering smsan. Saling
mendoakan, saling memberi semangat. Kami bahkan saling curhat. Dia curhat
tentang lelaki yang dia suka, aku juga begitu. Dia dewasa. Dia selalu bisa
memberi masukan yang bijak. Bersyukur sekali bisa mempunyai sahabat seperti
dia.
Tapi, layaknya hukum alam, jarak
selalu punya sejuta cara untuk merenggangkan persahabatan. Kami berbeda sekolah
ketika SMA. Kami sibuk dengan sekolah kami masing-masing. Tidak sampai hilang
komunikasi memang, kami masih cukup intens ber-sms ria, iya masih. Pertemuan
saja yang menjadi tidak pernah. Hubungan kami masih baik-baik saja meski tidak
pernah bertemu. Dia masih menjadi sahabatku yang baik.
Pada suatu ketika, hal yang tidak aku
inginkan terjadi, menjadi. Kami menjadi begitu berjarak. Karena apa? Aku
menyukai seorang pria – sebut saja dia Mr. X – semenjak kelas IX SMP. Kami berpacaran ketika kami
sama-sama duduk di kelas X SMK. Singkat cerita kami akhirnya putus karena suatu
alasan. Apa yang kurasakan saat itu? Tentu sedih. Sedih sekali. Kesedihan itu
aku curahkan ke banyak sahabatku, termasuk dia. Seperti biasa, dia selalu
menjadi sahabat baikku. Hingga hari itu tiba, hampir setengah tahun aku putus
dari Mr. X, aku masih memendam rasa, tapi Mr. X ingin berkenalan dengan
sahabatku ini. Sebelumnya, sahabatku ‘minta izin’, boleh atau tidak, kalau aku
tidak bolehkan juga tidak apa, katanya. Ah dia memang sahabat yang baik. Tapi,
meski aku masih punya rasa ke Mr. X itu, bagaimana mungkin aku melarang
sahabatku ini berkenalan dengan dia? Siapa aku?
Beberapa bulan berselang, pada suatu Ramadhan, sepulang dari buka
bersama di rumah teman, sahabatku ini hampir menangis mengucapkan maaf. Tidak
apa, kataku. Pada malam itu dia jujur kalau dia sudah jadian dengan Mr. X. Mau
apa? Kita nggak bisa kan mengontrol hati kita? Aku sedih? Sedih memang. Tapi,
aku merasa sahabatku ini jauh lebih baik dari aku. Aku justru lega. Legaa
sekali.
Hal yang paling menyedihkan bukan
karena dia jadian dengan Mr. X. Tapi, karena hubungan persahabatan kami menjadi
begitu berjarak. Aku tak apa kehilangan laki-laki seperti dia. Tak apa. Tapi
kehilangan sahabat sebaik dia, rasanya sedih sekali. Kami menjadi jarang
sms-an, jarang sekali. Ketika reuni SMP, kami bertemu, tapi seperti ada sekat
yang menghalangi kami. Ada tembok besar. Aku bertanya-tanya kenapa? Tapi tak
ada jawaban yang muncul.
Baru awal tahun 2014 kemarin aku dapat
jawabannya. Saat dia sudah putus dari Mr. X. Sesuai dugaanku, dia tidak enak
padaku karena jadian dengan lelaki itu. Akhirnya kami malam itu saling curhat
kembali. Saling terbuka kembali. Kini, tembok itu sudah rubuh. Kami menjadi
bersahabat kembali. Terima kasih, Tuhan, sudah mengembalikan sahabatku.
By the way, kini dia menjadi wanita
yang sangat sholehah. Subhanallah, aku iri ;)
Thanks
for being my best :’

No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)