Suatu hari, saya berbincang dengan
salah satu sahabat saya. Obrolan kami ketika itu cukup menarik. Tentang menyebutkan
nama seseorang dalam doa kita. Bersimpuh pada-Nya agar dijodohkan dengan dia.
Apa kata sahabatku?
“Kita boleh aja nyebut namanya di doa
kita. Berharap dia jodoh kita. Tapi, apa kita benar-benar telah mengenalnya?
Jangan-jangan dia sifatnya jelek. Lalu Allah mengabulkan doa kita. Kita
berjodoh sama dia. Eh, ketika dijalani kita menyesal. Menyesal karena sifatnya
tidak sebaik yang kita duga.”
Saya menganggukkan kepala mencoba
menyerap apa yang dia katakan. Iya ya? Pikir
saya dalam hati. Lalu dia bilang lagi.
“Akan lebih baik kalau kita meminta
kepada-Nya agar dijodohkan dengan seseorang yang terbaik menurut ilmu-Nya.
Insha Allah apa yang baik bagi-Nya baik pula untuk kita. Allah Maha Tahu yang
terbaik untuk hamba-Nya.”
Saya kembali mengangguk sembari
mencoba menyerap apa yang sahabat saya itu katakan.
* * *
Apa kamu pernah menyebut nama dia –
yang selama ini kamu sayangi secara diam-diam – dalam doamu? Hampir semua orang
saya pikir pernah melakukannya, termasuk
Saya. Saya pernah – bahkan bisa dibilang sering – menyebut namanya dalam doaku.
Berdoa agar Allah mau membukakan pintu hatinya untuk saya. Berdoa agar Allah
kembali mempertemukan kami. Berdoa agar Allah menjanganya untuk saya.
Melindungi dirinya juga imannya. Berdoa agar saya bisa memantaskan diri
untuknya dan juga dia memantaskan diri untuk saya. Bersimpuh agar kami
berjodoh. Berharap doa itu sampai kepada-Nya. Saya pernah seperti itu, sungguh
pernah.
Dia, yang bahkan tidak pernah ngobrol
lima menit saja dengannya, saya justru dengan beraninya menyebut namanya dalam
doa. Dia, yang bahkan sekarang saya tak tahu kabarnya. Sedang apa. Apa dan
bagaimana sifatnya. Saya hanya meyakini bahwa dia baik. Itu saja. Tanpa tahu
apa dia benar-benar baik.
Apa sekarang saya harus berhenti
menyebut namanya? Ah, entahlah. Ada bagian dari hati kecil saya yang
memberontak, tidak rela jika namanya tak lagi disebut. Mungkin aku masih
manyebut nama dia dalam doaku. Namun, doaku sedikit diubah
“Ya Allah, jika dia
jodohku, satukan hatiku dengan hatinya, bantu kami untuk saling memperbaiki diri, agar pantas untuk satu sama
lain. Agar kami bisa mendapat keberkahan dari-Mu. Namun, bila dia bukan jodohku,
berikanlah tanda, Ya Allah, agar hati ini ikhlas untuk merelakan. Berikan kami
pendamping yang baik menurut ilmu-Mu. Aamiin.”

No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)