Monday, 25 August 2014

Menyebut Namanya

Suatu hari, saya berbincang dengan salah satu sahabat saya. Obrolan kami ketika itu cukup menarik. Tentang menyebutkan nama seseorang dalam doa kita. Bersimpuh pada-Nya agar dijodohkan dengan dia. Apa kata sahabatku?

“Kita boleh aja nyebut namanya di doa kita. Berharap dia jodoh kita. Tapi, apa kita benar-benar telah mengenalnya? Jangan-jangan dia sifatnya jelek. Lalu Allah mengabulkan doa kita. Kita berjodoh sama dia. Eh, ketika dijalani kita menyesal. Menyesal karena sifatnya tidak sebaik yang kita duga.”

Saya menganggukkan kepala mencoba menyerap apa yang dia katakan. Iya ya? Pikir saya dalam hati. Lalu dia bilang lagi.
“Akan lebih baik kalau kita meminta kepada-Nya agar dijodohkan dengan seseorang yang terbaik menurut ilmu-Nya. Insha Allah apa yang baik bagi-Nya baik pula untuk kita. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.” 

Saya kembali mengangguk sembari mencoba menyerap apa yang sahabat saya itu katakan.

* * *

Apa kamu pernah menyebut nama dia – yang selama ini kamu sayangi secara diam-diam – dalam doamu? Hampir semua orang  saya pikir pernah melakukannya, termasuk Saya. Saya pernah – bahkan bisa dibilang sering – menyebut namanya dalam doaku. Berdoa agar Allah mau membukakan pintu hatinya untuk saya. Berdoa agar Allah kembali mempertemukan kami. Berdoa agar Allah menjanganya untuk saya. Melindungi dirinya juga imannya. Berdoa agar saya bisa memantaskan diri untuknya dan juga dia memantaskan diri untuk saya. Bersimpuh agar kami berjodoh. Berharap doa itu sampai kepada-Nya. Saya pernah seperti itu, sungguh pernah.

Dia, yang bahkan tidak pernah ngobrol lima menit saja dengannya, saya justru dengan beraninya menyebut namanya dalam doa. Dia, yang bahkan sekarang saya tak tahu kabarnya. Sedang apa. Apa dan bagaimana sifatnya. Saya hanya meyakini bahwa dia baik. Itu saja. Tanpa tahu apa dia benar-benar baik.

Apa sekarang saya harus berhenti menyebut namanya? Ah, entahlah. Ada bagian dari hati kecil saya yang memberontak, tidak rela jika namanya tak lagi disebut. Mungkin aku masih manyebut nama dia dalam doaku. Namun, doaku sedikit diubah

“Ya Allah, jika dia jodohku, satukan hatiku dengan hatinya, bantu kami untuk saling memperbaiki diri, agar pantas untuk satu sama lain. Agar kami bisa mendapat keberkahan dari-Mu. Namun, bila dia bukan jodohku, berikanlah tanda, Ya Allah, agar hati ini ikhlas untuk merelakan. Berikan kami pendamping yang baik menurut ilmu-Mu. Aamiin.”

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)