Monday, 22 September 2014

Seseorang di Masa Lalu

Apa kamu masih terkadang—atau bahkan sering—mengingat mereka yang telah berlalu dari hidupmu? Entah karena melihat fotonya atau tiba-tiba aja dia terlintas dipikiran? Aku pernah. Mengingat mereka yang sudah lama berlalu, entah itu meninggalkan luka atau bahagia, atau mereka yang sengaja aku lupakan. Sengaja melupakan? Ya, semacam berhenti berharap. Move on.

Entah kenapa tiba-tiba bayangannya muncul. Dia memang sudah tidak istimewa lagi di hati ini. Sungguh tidak. Aku sudah lama menghapusnya dari harapku. Dia yang dulu sangat aku kagumi. Dia yang pernah setengah mati kusayangi. Dia yang pernah memberikan senyum sekaligus tangis di hidupku. Aku pernah ketika itu berkhayal tentang masa depan kami. Betapa indahnya jika kami bisa bersama hingga kelak. Ah, khayalan yang sangat tinggi, mengingat ketika itu usiaku masih belasan, baru kelas X SMA.
Baiklah, akan kuceritakan sedikit kisah tentangnya.

Kami bertemu di akhir tahun masa SMP. Ketika itu aku terpaku melihat senyumnya yang manis sekali. Sedikit lebay, ya? Tapi benar, dia sangat manis. Sejak saat itu aku mulai mengaguminya. Memandanginya diam-diam. Senyum-senyum sendiri ketika melihat senyumnya. Aku terus mengaguminya, menyimpan rasa suka itu sampai menjelang ujian nasional. Saat itu, sahabatku sudah tahu kalau aku menyukainya, mereka membantuku untuk bisa dekat dengannya. Mencari nomor teleponnya. Bertanya kepada semua temannya, tapi tak satupun bisa mendekatkanku kepadanya. Ah, betapa aku malang sekali dalam hal percintaan. Hingga, entah kekuatan apa yang mendorongku, aku memberanikan diri memberikannya surat. Aku ingat sekali ketika itu pulang sekolah, dengan bantuan temanku, aku bisa bertemu dengannya, memberikan surat kepadanya langsung. Disaksikan semua teman dekatnya. Ya Tuhan, betapa malunya aku ketika itu.

Tapi, sampai lulus sekolah, surat itu tak pernah terbalas. Hari berganti hari berlalu. Kami berbeda sekolah. Aku masih penasaran tentang hatinya. Masih sering menengok ke gang rumahnya setiap kali lewat dari atas bus sekolah yang kutumpangi. Berharap dia berdiri di pinggir jalan. Mau naik bus yang sama denganku.

Hingga suatu hari, aku telat. Bus sekolah sudah berlalu. Aku terpaksa naik angkot (angkutan kota – red). Untuk sampai sekolah, aku harus menaiki angkot dua kali. Jadi, harus menuju terminal terlebih dahulu. Di terminal itu lah aku bertemu dengannya. Singkat cerita setelah pertemuan itu, aku menjadi bisa lebih dekat dengannya. Aku sudah mendapat nomor handphonenya. Hingga pada suatu sore, dia menembakku. Dan, tanpa pikir panjang, aku langsung menerimanya. Apa lagi yang membuat hati bahagia selain cinta yang terbalas?

Enam bulan kami bersama. Sudah kukatakan tadi, dia memberiku senyum sekaligus tangis. Mungkin lebih banyak menangis. Seorang teman pernah bilang, “Cinta itu bahagia, jika kamu selalu sedih dan terluka, lepaskan saja.” Berkali aku ingin melepasnya, tapi hati ini begitu bebal untuk bertahan. Bagaimana pun, aku sangat menyayanginya. Hingga suatu hari di bulan April tahun 2010, dia yang melepasku. Dengan alasan absurd, dia berlalu. Aku yang begitu polos, berpikir demi kebaikannya, melepaskannya begitu saja. Percaya saja ketika dia bilang dia tidak boleh pacaran. Aku tak ingin dia dimarahi karena aku. Aku melepasnya, berharap jika kelak dia sudah diizinkan, dia akan kembali padaku. Aku mau menunggunya.

Baru seminggu, dia sudah bersama yang lain. Pertama muncul nama A, lalu ada lagi si B. Jika dirangkai A ke B, aku baru sadar, dia tidak pernah benar-benar menyayangiku. Apalah artinya mendapatkan seseorang yang kita sayangi, namun dia tidak benar-benar menyayangi kita, dia tidak benar-benar bahagia bersama kita.

Ya, sejak saat itu aku berusaha move on. Satu tahun aku berusaha menghapus bayangnya. Berusaha menjadi teman yang baik untuknya. Mendengarkan segala kisahnya ketika itu. Berusaha berdamai dengan segala rasa pahit yang dia berikan. Kini, kami sudah lost contact. Biarlah dia berkembara mencari cintanya.  Semoga dia bahagia.

Terkadang, ketika kita sangat menyayangi seseorang, kita menjadi ‘buta’ akan kasih sayang yang diberikan oleh orang-orang di sekitar kita. Aku bersyukur mengalami rasa sakit itu – yang akhirnya justru mendekatkanku dengan banyak orang yang menyayangiku.

Kini, aku masih saja sendiri. Sudah empat tahun. Benar-benar cukup lama. Aku masih saja diam-diam menyukai seseorang. Diam-diam jatuh hati. Aku menikmati setiap sensasinya. Bersyukur masih diberi anugerah berupa rasa special itu. Walau kadang terluka. Terluka menyaksikan dia yang kukagumi secara diam-diam, ternyata sudah bersama yang lain. Tapi, aku masih tetap akan melakukannya. Berharap kelak Tuhan berbaik hati menyatukanku dengan dia yang kusayangi dan benar-benar menyayangiku. Berharap kebahagiaan itu masih tersisa untukku. Berharap pangeranku kelak akan datang, dengan kesederhanaan dan ketulusan. Datang dengan janji kebahagiaan. Aamiin.

Nggak semua hal tentangnya kuceritakan disini. Nggak ada maksud untuk apa pun juga. Aku hanya tiba-tiba ingin menceritakannya :)

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)