Menikah. Dulu, ketika kelas XII, aku
selalu antusias jika di mata pelajaran agama membahas tentang menikah. Bukan
hanya aku, rasanya semua teman antusias. Dari yang sebelumnya ngantuk jika belajar
Agama, tiba-tiba menjadi begitu semangat jika memasuki bab tentang pernikahan. Aku bahkan sempat mengajukan sebuah pertanyaan retorik, "kenapa nggak ada ujian praktek pernikahan?"
Itu dua tahun yang lalu, ketika usiaku
masih delapan belas. Ketika itu aku berkhayal bisa menikah di usia dua puluh.
Kemudian langsung mengandung. Aku ingin memiliki anak di usia muda. Aku ingin jarak usiaku
dan anakku kelak tidak begitu jauh. Agar hubungan kami tidak kaku, bahkan bisa
menjadi seperti sahabat. Aku terinspirasi dari mamaku. Beliau masih sangat
muda. Jika baru melihatnya, pasti mengira jika beliau adalah kakakku. Ya, dulu
aku ingin sekali menikah muda.
Sekarang usiaku dua puluh. Masih
sering senyum-senyum sendiri jika ada yang membahas tentang pernikahan. Masih
ada desiran rindu akan memiliki pasangan. Masih sedikit iri jika melihat
pasangan suami istri muda yang begitu mesra. Tapi, jika ditanya apa aku siap
menikah? Rasa antusiasku tidak seperti dulu.
Di tahun ini, tiba-tiba aku takut
dengan sesuatu yang bernama komitmen dan menikah merupakan suatu komitmen yang
paling tinggi dari sebuah hubungan. Ya, takut merupakan salah satu alasan
selain karena aku sekarang masih kuliah dan memang aku masih belum memiliki pasangan alias jomblo.
Tiba-tiba aku menjadi takut untuk memulai suatu hubungan. Aku ingin bersama dia yang segala sesuatu tentangku, tentang impianku,
keluargaku kuceritakan kepadanya. Tapi, adakah dia yang mau menerimaku?
Adakah dia yang mau untuk aku berbagi dunia bersamanya? Menyayangi, bukan hanya
aku, tetapi juga keluargaku? Adakah dia yang… hhh, lelah jika aku harus menulis
beribu pertanyaan yang sering muncul di benakku. Entahlah, kenapa menjadi
minder seperti itu?
Aku harap, dia, my Mr. Right akan segera datang di waktu dan cara yang tepat. Meruntuhkan segala keraguan dan ketakutanku. Dia akan datang dengan ketulusan, kesederhanaan dan janji kebahagiaan. Aamiin.
Aku harap, dia, my Mr. Right akan segera datang di waktu dan cara yang tepat. Meruntuhkan segala keraguan dan ketakutanku. Dia akan datang dengan ketulusan, kesederhanaan dan janji kebahagiaan. Aamiin.
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)