Intan
Hari ini aku
kembali kuliah setelah kemarin tidak masuk karena sakit. Keadaan di kampus
masih sama, datar, nggak ada hal yang special selain ilmu dan mungkin dia. Dia
yang entah sejak kapan aku mulai menambahkannya sebagai penyemangat untukku
berkuliah. Dia yang entah dengan cara apa membuatku ingin selalu melihat
wajahnya, meski dengan cara harus curi-curi pandang. Diam-diam aku mulai
menaruh harap kepadanya.
Pernahkah kamu
bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba kamu bertanya pada dirimu sendiri,
“Diakah my Mr. Right?” Aku pernah, dan itu dia. Lelaki berbadan tidak gemuk
juga tidak kurus, sederhana, dan berwajah begitu meneduhkan. Aku merasa
memiliki kesamaan dengannya. Dari apa yang kami suka, juga dari pola pikirnya.
Khayalku, pasti seru jika kelak kami bisa menjadi pasangan. Dia akan menjadi
imam yang baik untukku dan juga bisa menjadikanku bukan sekedar pasangan tapi
juga teman diskusi yang baik.
Kembali ke
kampus. Dari jendela, kulihat dia sudah duduk manis di tempatnya sambil
mendengarkan music. Dia seperti biasa selalu cuek. Aku nggak berani
mengganggunya, ya karena entah kenapa aku malu menegurnya. Hanya ada kami
berdua di kelas. Canggung sekali rasanya.
“Intan, kenapa
kemarin nggak masuk?” tanyanya tiba-tiba sambil menatap kedua mataku.
“Eh, oh iya, aku
sakit.” Jawabku kaku.
“Oh.” Sautnya
singkat lalu kembali memasang headset di telinganya.
Hanya Oh? Nggak
ada tanggapan lainnya? Seharusnya dia bertanya lagi, sakit apa? Sudah minum
obat? Sudah benar-benar sembuh? Gumam Intan dalam hati.
***
Bumi
Sore ini
rutinitasku masih sama seperti biasa. Kuliah. Nggak ada yang special memang,
selain ilmu yang mahal sekali harganya. Malas sebenarnya, tapi rugi kalau nggak
masuk. Sudah investasi banyak untuk kuliah. Selain karena itu, juga mungkin
karena dia. Kenapa kemarin dia nggak masuk ya? Aku harap hari ini dia masuk.
Dia yang entah sejak kapan aku mulai diam-diam memperhatikannya. Dia yang entah
bagaimana membuatku selalu tersenyum jika mengingatnya.
Pernahkah kamu
bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba kamu bertanya pada dirimu sendiri,
“Diakah my Mrs. Right?” Aku pernah, dan itu dia. Wanita berpipi tembam, senang
memakai jilbab berwarna pastel, yang tingkahnya selalu membuatku tersenyum
diam-diam. Aku merasa memiliki kesamaan dengannya. Dari apa yang kami suka, dan
juga dari pola pikirnya. Khayalku, jika dia menjadi istriku, aku akan selalu
membahagiakannya. Aku akan punya bukan sekedar pasangan, tapi juga teman
diskusi, karena dia begitu cerdas.
Sore ini ternyata
dia kuliah. Dia datang setelahku. Aku nggak menyadari kedatangannya karena
suara music yang begitu nyaring. Hanya ada kami di kelas ketika itu. Dia
seperti biasa hanya berlalu melewatiku. Aku juga seperti biasa bersikap sok
cuek kepadanya. Tapi, rasa penasaranku membuatku tiba-tiba bertanya kepadanya.
“Intan, kenapa
kemarin nggak masuk?” Tanyaku berusaha sewajar mungkin.
“Eh, oh iya, aku
sakit.” Jawabnya sambil tersenyum menatapku.
“Oh.” Sautku
bodoh. Sebegitu speechlessnya ya sampai-sampai hanya berkata oh? Seharusnya
kamu bertanya sakit apa? Sudah minum obat? Sudah benar-benar sembuh? Gumam Bumi dalam hati.
***
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)