Thursday, 20 November 2014

Love in Silence #1

Intan

Hari ini aku kembali kuliah setelah kemarin tidak masuk karena sakit. Keadaan di kampus masih sama, datar, nggak ada hal yang special selain ilmu dan mungkin dia. Dia yang entah sejak kapan aku mulai menambahkannya sebagai penyemangat untukku berkuliah. Dia yang entah dengan cara apa membuatku ingin selalu melihat wajahnya, meski dengan cara harus curi-curi pandang. Diam-diam aku mulai menaruh harap kepadanya.

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba kamu bertanya pada dirimu sendiri, “Diakah my Mr. Right?” Aku pernah, dan itu dia. Lelaki berbadan tidak gemuk juga tidak kurus, sederhana, dan berwajah begitu meneduhkan. Aku merasa memiliki kesamaan dengannya. Dari apa yang kami suka, juga dari pola pikirnya. Khayalku, pasti seru jika kelak kami bisa menjadi pasangan. Dia akan menjadi imam yang baik untukku dan juga bisa menjadikanku bukan sekedar pasangan tapi juga teman diskusi yang baik.

Kembali ke kampus. Dari jendela, kulihat dia sudah duduk manis di tempatnya sambil mendengarkan music. Dia seperti biasa selalu cuek. Aku nggak berani mengganggunya, ya karena entah kenapa aku malu menegurnya. Hanya ada kami berdua di kelas. Canggung sekali rasanya.

“Intan, kenapa kemarin nggak masuk?” tanyanya tiba-tiba sambil menatap kedua mataku.

“Eh, oh iya, aku sakit.” Jawabku kaku.

“Oh.” Sautnya singkat lalu kembali memasang headset di telinganya.

Hanya Oh? Nggak ada tanggapan lainnya? Seharusnya dia bertanya lagi, sakit apa? Sudah minum obat? Sudah benar-benar sembuh? Gumam Intan dalam hati.

***
Bumi

Sore ini rutinitasku masih sama seperti biasa. Kuliah. Nggak ada yang special memang, selain ilmu yang mahal sekali harganya. Malas sebenarnya, tapi rugi kalau nggak masuk. Sudah investasi banyak untuk kuliah. Selain karena itu, juga mungkin karena dia. Kenapa kemarin dia nggak masuk ya? Aku harap hari ini dia masuk. Dia yang entah sejak kapan aku mulai diam-diam memperhatikannya. Dia yang entah bagaimana membuatku selalu tersenyum jika mengingatnya.

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba kamu bertanya pada dirimu sendiri, “Diakah my Mrs. Right?” Aku pernah, dan itu dia. Wanita berpipi tembam, senang memakai jilbab berwarna pastel, yang tingkahnya selalu membuatku tersenyum diam-diam. Aku merasa memiliki kesamaan dengannya. Dari apa yang kami suka, dan juga dari pola pikirnya. Khayalku, jika dia menjadi istriku, aku akan selalu membahagiakannya. Aku akan punya bukan sekedar pasangan, tapi juga teman diskusi, karena dia begitu cerdas.

Sore ini ternyata dia kuliah. Dia datang setelahku. Aku nggak menyadari kedatangannya karena suara music yang begitu nyaring. Hanya ada kami di kelas ketika itu. Dia seperti biasa hanya berlalu melewatiku. Aku juga seperti biasa bersikap sok cuek kepadanya. Tapi, rasa penasaranku membuatku tiba-tiba bertanya kepadanya.

“Intan, kenapa kemarin nggak masuk?” Tanyaku berusaha sewajar mungkin.

“Eh, oh iya, aku sakit.” Jawabnya sambil tersenyum menatapku.

“Oh.” Sautku bodoh. Sebegitu speechlessnya ya sampai-sampai hanya berkata oh? Seharusnya kamu bertanya sakit apa? Sudah minum obat? Sudah benar-benar sembuh? Gumam Bumi dalam hati.

***

Kata “Oh” hari itu mengakhiri percakapan mereka. Kelas kembali hening sampai semua mahasiwa datang. Entah sampai kapan mereka akan terus seperti itu. Saling menaruh harap dalam hati, namun tidak berani menunjukkannya.

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)