Berbicara tentang cinta… Em, apa itu cinta? Bagiku,
cinta itu adalah cinta. Aku rasa aku tidak perlu mendeskripsikannya. Yang
pasti, aku selalu tertarik tentang segala hal tentang cinta. Contohnya saja,
aku sangat suka menonton film atau drama romantis. Tidak sedikit sahabatku
mengejekku karena itu. Ya, karena banyak dari mereka lebih menyukai film horor
daripada drama romantis. Mengapa aku menyukai drama romantis? Karena di
dalamnya, aku menjadi percaya bahwa lelaki yang mencintai dengan tulus itu
masih ada. Ya, meskipun belum menemukan, tapi setidaknya dengan percaya, ada
sedikit sensasi menyenangkan di hati. Ada sedikit harap.
Di dalam drama romantis, aku bisa melihat bagaimana
seorang lelaki mengejar wanita yang disukainya dengan begitu gigih. Menjadi
lebih baik karena gadis itu. Tersenyum dan ikut mendoakan kebahagiannya
meskipun gadis itu harus bersama lelaki lain, seperti di film You’re the Apple
of My Eye. Ada juga seorang lelaki yang begitu tampan, Dipuja di seluruh
sekolah, namun begitu tulus menyukai seorang gadis yang sangat biasa saja
(namun pada akhirnya berubah menjadi cantik, cerdas, dan sukses karena ingin menjadi
lebih baik di hadapan lelaki itu), seperti di film Crazy Little Thing Called
Love. Ada lagi, seorang suami yang tidak putus asa untuk mendampingi istrinya
yang bahkan sudah melupakannya karena suatu penyakit bernama Alzheimer, seperti
di film A Moment to Remember. Atau seperti di film Up, seorang kakek yang
sangat mencintai almarhum istrinya. Dan masih banyaak sekali kisah cinta dalam
drama yang begitu indah.
Di dalam drama romantis, aku selalu bisa melihat
tatapan cinta seorang lelaki kepada wanita yang disayanginya. Tatapan penuh
cinta. Ingat, cinta, bukan nafsu. Tatapan yang penuh dengan ketulusan. Tatapan
yang seolah mengisyaratkan kalimat, “Berbahagialah” atau “Aku berjanji akan membuatmu
bahagia” atau “Melihatmu tersenyum membuatku bahagia” dan segala kalimat penuh
dengan ketulusan—namun tidak diucapkan.
Tapi, drama is just a drama. Bukan kehidupan nyata. Aku
pernah berpikir, apa aku pernah bertemu dengan lelaki yang setulus itu? Satu-satunya lelaki yang pernah aku kenal yang memiliki kasih sayang yang sangat tulus adalah.. siapa lagi jika bukan bapak? Aku
yakin masih banyak tersisa lelaki yang memiliki ketulusan itu selain kasih sayang seorang bapak. Mungkin lelaki
itu pernah ada di sekitarku, entah yang memang menyukaiku sebagai wanita atau
hanya sebagai teman. Entah itu dia yang pernah memberikanku kado ketika aku
berulang tahun. Entah itu dia yang mendekatiku melalui teman. Entah itu dia
yang pernah tidak lelah menjadi temanku berbagi kisah. Entah itu dia yang dulu sekali sering
mengejekku. Entah itu dia yang pernah benar-benar aku sayangi dan sempat
bersamanya selama beberapa bulan. Entah itu dia yang sering
sekali menyapaku setiap kami berpapasan—yang sampai sekarang aku masih sering
diam-diam merindukan sapaan itu. Entah itu dia yang pernah kukagumi, dan ketika
ulang tahun dia mengucapkan selamat, lalu sesaat kemudian menghilang. Entah itu
dia yang pernah menanyakan keadaanku. Entah itu dia yang begitu segan
menyapaku.
Menyukai dan disukai adalah hal-hal yang wajar untuk
disyukuri, ‘kan? Menyukai dan disukai juga hak semua orang. Ya meskipun tidak
seindah dalam drama, tapi tetap harus disyukuri. Meskipun orang yang kita sukai
tidak menyukai kita. Meskipun orang yang kita kagumi tidak pernah mengetahui
keberadaan kita. Meskipun orang yang diam-diam kita tunggu tidak pernah tahu
mengapa kita menunggunya. Itu tetaplah indah. Segala rasa adalah spesial.
Meskipun belum bertemu dengan lelaki yang benar-benar
tulus mau menjaga, menerima, menuntut,
membuat bahagia, berbagi mimpi bersama, tapi harus tetap yakin bahwa
Tuhan masih menyisakan lelaki yang baik. Bisa jadi kelak kisah kita akan lebih
indah dari drama. Who knows.

No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)