Saturday, 28 February 2015

More than Just a Drama (?)

Berbicara tentang cinta… Em, apa itu cinta? Bagiku, cinta itu adalah cinta. Aku rasa aku tidak perlu mendeskripsikannya. Yang pasti, aku selalu tertarik tentang segala hal tentang cinta. Contohnya saja, aku sangat suka menonton film atau drama romantis. Tidak sedikit sahabatku mengejekku karena itu. Ya, karena banyak dari mereka lebih menyukai film horor daripada drama romantis. Mengapa aku menyukai drama romantis? Karena di dalamnya, aku menjadi percaya bahwa lelaki yang mencintai dengan tulus itu masih ada. Ya, meskipun belum menemukan, tapi setidaknya dengan percaya, ada sedikit sensasi menyenangkan di hati. Ada sedikit harap.

Di dalam drama romantis, aku bisa melihat bagaimana seorang lelaki mengejar wanita yang disukainya dengan begitu gigih. Menjadi lebih baik karena gadis itu. Tersenyum dan ikut mendoakan kebahagiannya meskipun gadis itu harus bersama lelaki lain, seperti di film You’re the Apple of My Eye. Ada juga seorang lelaki yang begitu tampan, Dipuja di seluruh sekolah, namun begitu tulus menyukai seorang gadis yang sangat biasa saja (namun pada akhirnya berubah menjadi cantik, cerdas, dan sukses karena ingin menjadi lebih baik di hadapan lelaki itu), seperti di film Crazy Little Thing Called Love. Ada lagi, seorang suami yang tidak putus asa untuk mendampingi istrinya yang bahkan sudah melupakannya karena suatu penyakit bernama Alzheimer, seperti di film A Moment to Remember. Atau seperti di film Up, seorang kakek yang sangat mencintai almarhum istrinya. Dan masih banyaak sekali kisah cinta dalam drama yang begitu indah.

Di dalam drama romantis, aku selalu bisa melihat tatapan cinta seorang lelaki kepada wanita yang disayanginya. Tatapan penuh cinta. Ingat, cinta, bukan nafsu. Tatapan yang penuh dengan ketulusan. Tatapan yang seolah mengisyaratkan kalimat, “Berbahagialah” atau “Aku berjanji akan membuatmu bahagia” atau “Melihatmu tersenyum membuatku bahagia” dan segala kalimat penuh dengan ketulusan—namun tidak diucapkan.

Tapi, drama is just a drama. Bukan kehidupan nyata. Aku pernah berpikir, apa aku pernah bertemu dengan lelaki yang setulus itu? Satu-satunya lelaki yang pernah aku kenal yang memiliki kasih sayang yang sangat tulus adalah.. siapa lagi jika bukan bapak? Aku yakin masih banyak tersisa lelaki yang memiliki ketulusan itu selain kasih sayang seorang bapak. Mungkin lelaki itu pernah ada di sekitarku, entah yang memang menyukaiku sebagai wanita atau hanya sebagai teman. Entah itu dia yang pernah memberikanku kado ketika aku berulang tahun. Entah itu dia yang mendekatiku melalui teman. Entah itu dia yang pernah tidak lelah menjadi temanku berbagi kisah. Entah itu dia yang dulu sekali sering mengejekku. Entah itu dia yang pernah benar-benar aku sayangi dan sempat bersamanya selama beberapa bulan. Entah itu dia yang sering sekali menyapaku setiap kami berpapasan—yang sampai sekarang aku masih sering diam-diam merindukan sapaan itu. Entah itu dia yang pernah kukagumi, dan ketika ulang tahun dia mengucapkan selamat, lalu sesaat kemudian menghilang. Entah itu dia yang pernah menanyakan keadaanku. Entah itu dia yang begitu segan menyapaku.


Menyukai dan disukai adalah hal-hal yang wajar untuk disyukuri, ‘kan? Menyukai dan disukai juga hak semua orang. Ya meskipun tidak seindah dalam drama, tapi tetap harus disyukuri. Meskipun orang yang kita sukai tidak menyukai kita. Meskipun orang yang kita kagumi tidak pernah mengetahui keberadaan kita. Meskipun orang yang diam-diam kita tunggu tidak pernah tahu mengapa kita menunggunya. Itu tetaplah indah. Segala rasa adalah spesial.

Meskipun belum bertemu dengan lelaki yang benar-benar tulus mau menjaga, menerima, menuntut,  membuat bahagia, berbagi mimpi bersama, tapi harus tetap yakin bahwa Tuhan masih menyisakan lelaki yang baik. Bisa jadi kelak kisah kita akan lebih indah dari drama. Who knows.

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)