Wednesday, 4 February 2015

Berlari (Lagi)

“Apa impianmu?”

Tanyamu sambil memandang deru ombak sore itu. Iya, sore itu aku dan kamu sedang duduk di tepi pantai—kebiasaan kita. Duduk sambil menunggu sunset.

“Berlari.”

Jawabku dengan senyum—yang entah aku sendiri bingung mengapa aku tersenyum. Bagaimana aku tidak bingung? Aku sudah beberapa hari ini selalu murung. Seperti kehilangan arah. Aku, yang sudah lama sekali menyimpan semua sesak di hatiku. Hingga kamu datang. Entah bagaimana caranya, kamu membuatku berani mengeluarkan isi hatiku.




“Bukankah kamu tidak suka berlari?”

Tanyamu sambil tersenyum menatapku. Ya, Aku memang pernah memintamu untuk membawaku lari bersamamu, lalu…aku bilang tidak jadi, aku benci berlari.

“Bukan lari seperti yang kamu pikirkan.” Ungkapku kemudian “Aku ingin pergi jauh.. ke suatu tempat yang tidak ada seorang pun mengenalku. Aku ingin melepaskan semua yang aku punya disini’’ Aku menghela napas tertahan. “—iya semuanya. Termasuk semua orang yang kusayang dan semua beban hati yang selalu menyesakkanku.”

Matahari ketika itu tinggal menghitung detik untuk menghilang, untuk digantikan oleh bulan. Bagi sebagian orang warna oranye matahari tenggelam itu sangat indah, bagi sebagian lagi, itu penuh dengan luka.

“Aku mungkin tidak tahu seberapa terlukanya kamu. Aku tidak pernah merasakannya. Aku cuma bisa membayangkannya—”

“You know nothing.” Kataku

Seketika suasana ketika itu berubah menjadi hening. Beberapa menit aku dan kamu hanya terdiam.

“I’m tired. Even, I hate myself. Aku benci harus berpura-pura kuat. Aku benci bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku…hhh, kamu nggak tahu apa apa.” Air mataku sudah tidak bisa lagi kutahan. Aku nyaris berteriak di hadapanmu. Menangis sejadi-jadinya, tapi tanpa suara. Aku benci dengan semua rasa sesak di hatiku.

“Menangislah hingga kamu merasa lega. Percaya, esok akan lebih baik. Percayalah, betapa Tuhan itu sangat adil. Dia pasti sudah menyisakan kebahagiaan untuk kamu.” Katamu sambil menepuk pundakku setelah aku menangis cukup lama. Kamu selalu membiarkanku menangis hingga aku berhenti sendiri.

“Suatu hari nanti jika kamu benar-benar siap. Benar-benar bisa ikhas. Benar-benar bisa berdamai dengan ketidaikhlasan, ayo kita berlari bersama. Bukan berlari dari kenyataan tapi berlari menggapai impian. Impian kita.” Kamu meneruskan kalimatmu sambil tersenyum tulus ke arahku.

“Aku akan mendampingimu menghadapi masa sulit ini, hingga aku benar-benar tahu. Benar-benar mengerti.” Bisikmu lirih

Kelegaan menyergapku seketika. Kamu selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Kamu tahu betapa dulu aku sangat berharap seseorang akan datang untuk bisa kuajak berbagi beban ini? Terima kasih telah datang di hidupku.

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)