Tanyamu sambil memandang deru ombak sore itu. Iya, sore
itu aku dan kamu sedang duduk di tepi pantai—kebiasaan kita. Duduk sambil
menunggu sunset.
“Berlari.”
Jawabku dengan senyum—yang entah aku sendiri bingung
mengapa aku tersenyum. Bagaimana aku tidak bingung? Aku sudah beberapa hari ini
selalu murung. Seperti kehilangan arah. Aku, yang sudah lama sekali menyimpan semua
sesak di hatiku. Hingga kamu datang. Entah bagaimana caranya, kamu membuatku
berani mengeluarkan isi hatiku.
“Bukankah kamu tidak suka berlari?”
Tanyamu sambil tersenyum menatapku. Ya, Aku memang
pernah memintamu untuk membawaku lari bersamamu, lalu…aku bilang tidak jadi,
aku benci berlari.
“Bukan lari seperti yang kamu pikirkan.” Ungkapku
kemudian “Aku ingin pergi jauh.. ke suatu tempat yang tidak ada seorang pun
mengenalku. Aku ingin melepaskan semua yang aku punya disini’’ Aku menghela
napas tertahan. “—iya semuanya. Termasuk semua orang yang kusayang dan semua beban hati yang selalu
menyesakkanku.”
Matahari ketika itu tinggal menghitung detik untuk
menghilang, untuk digantikan oleh bulan. Bagi sebagian orang warna oranye
matahari tenggelam itu sangat indah, bagi sebagian lagi, itu penuh dengan luka.
“Aku mungkin tidak tahu seberapa terlukanya kamu. Aku
tidak pernah merasakannya. Aku cuma bisa membayangkannya—”
“You know nothing.” Kataku
Seketika suasana ketika itu berubah menjadi hening.
Beberapa menit aku dan kamu hanya terdiam.
“I’m tired. Even, I hate myself. Aku benci harus
berpura-pura kuat. Aku benci bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku…hhh,
kamu nggak tahu apa apa.” Air mataku sudah tidak bisa lagi kutahan. Aku nyaris berteriak
di hadapanmu. Menangis sejadi-jadinya, tapi tanpa suara. Aku benci dengan semua
rasa sesak di hatiku.
“Menangislah hingga kamu merasa lega. Percaya, esok
akan lebih baik. Percayalah, betapa Tuhan itu sangat adil. Dia pasti sudah
menyisakan kebahagiaan untuk kamu.” Katamu sambil menepuk pundakku setelah aku
menangis cukup lama. Kamu selalu membiarkanku menangis hingga aku berhenti
sendiri.
“Suatu hari nanti jika kamu benar-benar siap.
Benar-benar bisa ikhas. Benar-benar bisa berdamai dengan ketidaikhlasan, ayo
kita berlari bersama. Bukan berlari dari
kenyataan tapi berlari menggapai impian. Impian kita.” Kamu meneruskan
kalimatmu sambil tersenyum tulus ke arahku.
“Aku akan mendampingimu menghadapi masa sulit ini, hingga aku benar-benar tahu. Benar-benar mengerti.”
Bisikmu lirih
Kelegaan menyergapku seketika. Kamu selalu bisa
membuatku merasa lebih baik. Kamu tahu betapa dulu aku sangat berharap
seseorang akan datang untuk bisa kuajak berbagi beban ini? Terima kasih telah datang
di hidupku.
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)