Friday, 16 September 2016

Cant We?



"Maaf, orang itu bukan kamu"

Aku takut suatu hati nanti aku akan mengatakan hal itu ke kamu. Aku takut, karena telah lama menunggu rasaku ke kamu menjadi pudar. Aku takut kamu datang terlambat. Aku takut seiring berjalan waktu, di saat aku sendiri, tiba tiba tanpa aku sadari, ada orang lain yang mengisi hati ini selain kamu.

"Kamu dimana?"

Itu pertanyaan yang kadang-kadang tanpa sadar kuucapkan dalam hati. Itu pertanyaan yang terlintas setiap kali aku melewati jalan yang mungkin sering kamu lalui. Sulit sekali melacak keberadaanmu. Bayangmu pun sudah lama tak bisa kujamah. Semakin lama sosokmu semakin abu abu.

"Apa kabar?"

Aku menanyakan ini setiap kali terbangun dari tidurku di pagi hari. Iya, hanya di pagi hari. Sekali sehari. Aku mulai membiasakan diri untuk hanya memikirkanmu sekali dalam sehari. Bukan, bukan karena aku mulai melatih diri untuk melupakanmu. Tapi itu satu-satunya cara untuk aku bisa bertahan. Menahan rindu yang tidak jarang menyesakkan. Memaksaku untuk mencarimu dan ingin menemuimu. Meski lagi dan lagi yang aku dapatkan hanyalah kehampaan.

"Can't we?"

Akhir-akhir ini dua kata itu menjadi kata favoritku. Kalimat tanya yang penuh harapan juga keputusasaan. Setiap kali menonton drama romantis, kalimat tanya itu muncul. Aneh ya? Lalu pertanyaan-pertanyaan lain muncul bersamaan dengan itu;

Tidak bisakah aku menanyakan kabarmu?

Tidak bisakah kamu yang menghampiriku? 

Tidak bisakah kamu membuka hati untuk menyayangiku?

dan...



Tidak bisakah kita menjadi 'kita'?

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)