Thursday, 2 June 2016

Aku Hanya Perlu Didengarkan

listen
“Aku hanya perlu didengarkan”

Apa kamu pernah bermonolog seperti itu? Dalam diam, dalam kesunyian dan kepenatan, kamu berharap ada orang—yang meski hanya satu orang saja—mau mendengarkan kisahmu. Dari hal bahagia yang ingin kamu bagikan hingga keresahanmu. Atau mungkin kamu pernah saat asik mengobrol dengan orang-orang yang kamu anggap sahabat, kamu begitu asik dan bahkan sangat dengan senang hati mendengarkan kisah mereka, namun saat giliranmu ingin bercerita, tidak ada yang ingin mendengarkanmu. Jangankan bercerita panjang lebar, untuk memberikan pendapat singkat saja kamu tidak bisa. Bukan karena kamu tidak memiliki pendapat sehingga kamu tidak bisa berpendapat, namun suaramu kalah nyaring dengan suara mereka. Atau mungkin kamu pernah, di saat semua temanmu diam, kamu ingin sekali bercerita, namun mereka teralu sibuk dengan urusan masing-masing hingga—tanpa sengaja—mengabaikanmu.


“Aku hanya perlu didengarkan”

Kalimat di atas tak jarang sering aku ucapkan dalam hatiku setiap kali ada yang mengabaikan pendapatku. Tentu bukan karena mereka sengaja mengabaikanku, namun karena dalam keadaan dan bersama orang tertentu, suaraku terdengar lebih kecil. Sangat tidak jarang aku harus berteriak atau bahkan mengangkat tangan terlebih dahulu agar aku diberi kesempatan untuk berbicara.

Banyak orang--bahkan Saya sendiri--yang mengaku paham dan sering sekali mengatakan bahwa inti dari komunikasi yang baik adalah mendengarkan. Bahwa tidak baik jika hanya satu pihak yang selalu ingin berbicara, tanpa mau mendengarkan cerita atau bahkan keluh kesah dari pihak yang lain. Tapi itu hanya sebatas omongan, kebanyakan kita justru sibuk ingin didengarkan. Sibuk dengan keluh kesah sendiri. Padahal bisa jadi lawan bicara kita juga punya hal yang ingin ia bagi, yang ingin ia ceritakan.

Aku selalu senang dan siap mendengarkan bila siapa pun ingin barbagi kisah denganku. Aku tidak pernah merasa terbebani meski yang ku dengarkan adalah keluh kesah sekalipun. Karena aku percaya, terkadang, orang yang sedih yang memiliki banyak keluhan untuk dikisahkan, hanya perlu untuk didengarkan. Meski si pendengar tidak memberikan tanggapan berupa ucapan sekali pun. Itu sudah cukup membuat mereka yang bercerita merasa lega. Sesederhana itu. Yuk mulai dari sekarang berusaha jadi teman yang baik. Jadi pendengar yang baik.

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)