Monday, 14 July 2014

Wanita itu...

Dia adalah wanita yang sama dengan wanita lain. Dia berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Menyusun semua rencana kehidupan untuk masa depannya. Dia wanita yang ceria, meski sedikit pendiam, namun dia bisa sedikit cerewet dalam situasi dan orang-orang tertentu. Seharusnya dia bisa memiliki banyak teman, dia cukup percaya diri, namun tidak semua orang bisa membuatnya nyaman menjadi dirinya sendiri. Baginya, teman yang baik adalah mereka yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri, seburuk apa pun dirinya. Karenanya, saat dia tidak banyak memiliki teman dekat. Hanya ada beberapa teman di dekat rumahnya.

Baginya, sekarang, pertemanan terjadi karena keadaan. Hanya karena berdekatan, maka orang yang satu dengan orang yang lain dapat berteman. Ketika jarak memisahkan, masa pertemanan itu akan memudar seiring dengan waktu yang terus berlalu, digantikan oleh orang-orang yang baru. Begitulah pertemanan yang sering ia rasakan. Ia membenci hal itu. Kenapa hanya karena jarak pertemanan bisa menjadi terasa asing?

Dia yang sekarang adalah seorang wanita yang banyak menyimpan misteri. Segala kejadian pahit di hidupnya, membuat dia lupa bagaimana bahagia yang sebenarnya. Lupa bagaimana cara tersenyum dengan tulus. Lupa bagaimana cara tertawa lepas. Kini, senyumnya terlihat palsu, tawanya terdengar pilu, ia lupa cara untuk bahagia. Mungkin dia bisa tertawa, tersenyum bahagia di depan banyak orang. Tapi, setelah itu, masa lalu seolah-olah membunyikan loncengnya. Membuat ia sadar bahwa hidupnya sangat menyedihkan.

Dia lelah. Lelah bersikap seolah tak pernah terjadi apapun. Lelah berbohong ketika ditanya apakah dia baik-baik saja, padahal dia sendiri tak tahu tentang keadaannya. Lelah menutupi masalahnya. Lelah tersenyum penuh kepalsuan. Terkadang ingin rasanya ia menyalahkan takdir. Dia sangat lelah jika ditanya tentang masalah pribadinya. Lelah menutupi ini dan itu. Lelah berpura-pura mengabaikan apa yang orang pikirkan tentangnya. Terkadang dia ingin lari. Namun kemana? Dia tak tahu. Bahkan, kemana pun dia pergi, seolah-olah semua orang membicarakannya. Mengasihaninya. Mengejeknya. Menyalahkannya. Bahkan seolah kehidupan menjauh darinya. Ah, dia bahkan ragu apakah ada orang yang bisa mencintainya dengan tulus dan mau menerima dia dan keluarganya.

Hidupnya menjadi tidak beraturan sekarang. Orang-orang yang tidak tahu, mungkin mereka mengira dia adalah dia yang dulu, dia yang kuat, dia yang tulus, dia yang selalu berusaha membuat orang lain di sekitarnya tersenyum. Tanpa mereka tahu betapa setengah matinya dia mencoba untuk bertahan. Betapa seringnya dia melewatkan malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan. Betapa seringnya dia menangis dalam tidur. Dia.. bahkan sekarang pun menjadi jarang menemui-Nya.

Kini dia berjalan tertati mencari sosoknya yang dulu. Memungut sisa-sisa kebahagiaan. Berharap Tuhan berkenan menyisakan sedikit saja kebahagiaan untuknya. Ia masih terus berjalan. Setiap jalan yang ia lewati, bayangan senyum dari semua orang yang menyayanginya terlihat. Samar memang, namun itu cukup membuatnya merasa lega. Merasakan desiran kehangatan di dadanya. Merasakan secerca harapan untuk bisa kembali benar-benar bahagia. Secerca harapan untuk bisa mamaafkan segalanya. Memaafkan waktu yang menyiksanya. Bisakah kamu membantu wanita ini? Tolong bantulah dia. Ajarkan dia arti bahagia. Bukankah semua orang berhak bahagia?

Sekali lagi, siapa pun, tolong selamatkan dia. Kumohon, rangkul dia. Tersenyumlah penuh ketulusan kepadanya. 

2 comments:

  1. Semoga "Wanita itu" segera mendapat kebahagiaannya dan dapat tersenyum dengan tulus kepada tiap orang..


    nice Post :)

    ReplyDelete

Thank you for reading my post :)