Dia adalah wanita yang sama dengan
wanita lain. Dia berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Menyusun semua
rencana kehidupan untuk masa depannya. Dia wanita yang ceria, meski sedikit
pendiam, namun dia bisa sedikit cerewet dalam situasi dan orang-orang tertentu.
Seharusnya dia bisa memiliki banyak teman, dia cukup percaya diri, namun tidak
semua orang bisa membuatnya nyaman menjadi dirinya sendiri. Baginya, teman yang
baik adalah mereka yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri, seburuk apa
pun dirinya. Karenanya, saat dia tidak banyak memiliki teman dekat. Hanya ada
beberapa teman di dekat rumahnya.
Baginya, sekarang, pertemanan terjadi karena keadaan. Hanya karena berdekatan, maka orang yang satu dengan orang yang lain dapat berteman. Ketika jarak memisahkan, masa pertemanan itu akan memudar seiring dengan waktu yang terus berlalu, digantikan oleh orang-orang yang baru. Begitulah pertemanan yang sering ia rasakan. Ia membenci hal itu. Kenapa hanya karena jarak pertemanan bisa menjadi terasa asing?
Dia yang sekarang adalah seorang
wanita yang banyak menyimpan misteri. Segala kejadian pahit di hidupnya,
membuat dia lupa bagaimana bahagia yang sebenarnya. Lupa bagaimana cara
tersenyum dengan tulus. Lupa bagaimana cara tertawa lepas. Kini, senyumnya
terlihat palsu, tawanya terdengar pilu, ia lupa cara untuk bahagia. Mungkin dia
bisa tertawa, tersenyum bahagia di depan banyak orang. Tapi, setelah itu, masa
lalu seolah-olah membunyikan loncengnya. Membuat ia sadar bahwa hidupnya sangat
menyedihkan.
Dia lelah. Lelah bersikap seolah tak
pernah terjadi apapun. Lelah berbohong ketika ditanya apakah dia baik-baik
saja, padahal dia sendiri tak tahu tentang keadaannya. Lelah menutupi
masalahnya. Lelah tersenyum penuh kepalsuan. Terkadang ingin rasanya ia
menyalahkan takdir. Dia sangat lelah jika ditanya tentang masalah pribadinya.
Lelah menutupi ini dan itu. Lelah berpura-pura mengabaikan apa yang orang
pikirkan tentangnya. Terkadang dia ingin lari. Namun kemana? Dia tak tahu. Bahkan,
kemana pun dia pergi, seolah-olah semua orang membicarakannya. Mengasihaninya.
Mengejeknya. Menyalahkannya. Bahkan seolah kehidupan menjauh darinya. Ah, dia
bahkan ragu apakah ada orang yang bisa mencintainya dengan tulus dan mau
menerima dia dan keluarganya.
Hidupnya menjadi tidak beraturan
sekarang. Orang-orang yang tidak tahu, mungkin mereka mengira dia adalah dia
yang dulu, dia yang kuat, dia yang tulus, dia yang selalu berusaha membuat
orang lain di sekitarnya tersenyum. Tanpa mereka tahu betapa setengah matinya
dia mencoba untuk bertahan. Betapa seringnya dia melewatkan malam dengan
mimpi-mimpi yang menyesakkan. Betapa seringnya dia menangis dalam tidur. Dia.. bahkan
sekarang pun menjadi jarang menemui-Nya.
Kini dia berjalan tertati mencari
sosoknya yang dulu. Memungut sisa-sisa kebahagiaan. Berharap Tuhan berkenan
menyisakan sedikit saja kebahagiaan untuknya. Ia masih terus berjalan. Setiap
jalan yang ia lewati, bayangan senyum dari semua orang yang menyayanginya
terlihat. Samar memang, namun itu cukup membuatnya merasa lega. Merasakan
desiran kehangatan di dadanya. Merasakan secerca harapan untuk bisa kembali
benar-benar bahagia. Secerca harapan untuk bisa mamaafkan segalanya. Memaafkan
waktu yang menyiksanya. Bisakah kamu membantu wanita ini? Tolong bantulah dia.
Ajarkan dia arti bahagia. Bukankah semua orang berhak bahagia?
Sekali lagi, siapa pun, tolong
selamatkan dia. Kumohon, rangkul dia. Tersenyumlah penuh ketulusan kepadanya.
Semoga "Wanita itu" segera mendapat kebahagiaannya dan dapat tersenyum dengan tulus kepada tiap orang..
ReplyDeletenice Post :)
Aamiin :) Makasih :')
Delete