Apa kabar, sayang? Masih selalu baik-baik saja, ‘kan?
Maaf karena aku baru mengirim kabar kepadamu. Aku baik-baik saja disini, jangan
khawatir. Aku sudah lama merindukanmu. Apakah kamu juga? Ah iya, kita sudah
pernah membahas tentang ini. Kita sama-sama memendam rindu. Namun belum
waktunya untuk bersua. Sabar. Itu yang selalu kamu ucapkan setiap kali aku
teriakkan kata rindu. Ya, aku akan bersabar. Kita sudah berjanji akan saling
menanti, bukan? Aku akan menantimu disini, tidak hanya diam, tapi aku akan berusaha
memantaskan diri untukmu. Dan kamu, yang entah dimana, aku yakin juga begitu.
Kelak, sebelum kita nikah, kamu tahu apa yang wajib
kamu bawa untuk hantaran, ‘kan? Iya, sebuah buku. Novel lebih tepatnya dari
penulis favoritku. Jika aku telah menjadi istrimu, kamu ingin aku panggil
apa? Aa’, mas, hubby, sayang, atau oppa? Atau aku memanggilmu dengan semua
sebutan itu? Kamu tidak keberatan ‘kan? But I prefer to Aa’ *kedipin
mata*
Aku ingin kita memiliki rumah sendiri. Sederhana saja.
Dua lantai dengan balkon yang cukup luas di lantai dua. Aku ingin melihat bintang
bersamamu dari sana. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu pun tidak apa. Aku
justru suka. Karena lantai kayu membuat rumah terasa lebih sejuk. Aku selalu
suka, seperti rumah nenek di kampung sana. Tapi katanya rumah dari kayu
justru lebih mahal ya?
Ada halaman yang cukup luas untuk kita dan anak kita kelak
bisa bermain-main. Ngomong-ngomong tentang anak, aku ingin kita memiliki lima
anak. Empat orang kakak laki-laki dan satu orang perempuan. Kebanyakan ya,
lima? Aku ingin rumah kita menjadi ramai. Itu saja. Aku juga ingin berkebun di
halaman yang tidak begitu luas itu. Aku ingin mengajarkan anak kita untuk
mencintai lingkungan. Mencintai alam. Kita bisa sesekali memasang tenda di
halaman rumah kita kelak. Semacam camping. Tidak perlu ada api
unggun untuk menghangatkan tubuh kita. Kebahagian kita cukup untuk membuat
tubuh merasa hangat. Oiya, kita akan memasang layar putih yang cukup lebar lalu
menyalakan proyektor dan memutar film kesukaan kita – semacam layar tancap.
Atau kamu memainkan gitar, aku dan anak-anak yang bernyanyi.
![]() |
| imgfave.com |
Kelak, di rumah kecil kita, aku ingin ada sebuah library dengan desain minimalis. Sudah lama aku ingin
memiliki rak buku yang dipenuhi banyak buku, tidak hanya novel. Mengenai
bukunya, kamu nggak harus langsung membelikan banyak buku untukku. Biarkan library
itu diisi dengan koleksi bukuku yang sekarang. Aku akan mencicil setiap bulan
minimal satu buku untuk membuat rak-rak buku itu menjadi penuh. Kamu tahu aku
sangat senang membaca dan selalu merasa ceria melihat banyak buku tersusun di
rak, ‘kan? Aku ingin mengajarkan anak kita untuk menyukai buku. Agar mereka
gemar membaca buku. Agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bijak dan
berwawasan luas.
![]() |
| imgfave.com |
Ada dapur yang sederhana saja. Yang penting cukup untuk
aku bisa setiap hari memasak untukmu. Aku harap kamu bukan tipikal orang yang
memilih-milih makanan. Aku akan membuatkanmu sarapan setiap pagi. Atau kamu
ingin membawa bekal ke kantor? Aku akan dengan senang hati menyiapkannya. Aku
ingin menjadi ibu rumah tangga. Aku ingin fokus menjadi istri yang baik dan ibu
yang baik. Atau jika boleh, aku ingin menjadi guru. Mengapa guru? Karena guru
nggak harus berada di sekolah dari pagi sampai sore. Dengan begitu aku masih
punya banyak waktu untuk mengurus rumah. Masih punya waktu untuk membuatkanmu
makan malam.
![]() |
| imgfave.com |
Kalau ada waktu luang , aku ingin kita bisa pergi ke
bioskop. Nonton film, yang bukan film horror, bersama-sama. Kencan seperti anak
muda pada umumnya. Aku belum pernah nonton bersama someone special
sebelumnya. Biar sama kamu saja, kencan yang halal. Meski mungkin selera
kita akan film berbeda. Kamu mungkin suka action aku suka drama romantic. Kamu
mungkin suka Hollywood, aku suka Korea. Tapi itu justru yang membuat hubungan
menjadi indah. Saling mengerti. Sekali-kali aku akan menonton film favoritmu,
dan kamu pun sebaliknya, sekali-kali menonton film atau drama favoritku. Tapi
aku nggak akan paksa kamu menyukai apa yang aku suka. Aku cukup
diplomatis, ‘kan?
“Karena, untuk bersamaku,
kamu nggak harus menyukai apa yang aku suka. Aku tahu itu tidak mudah. Cukup
kamu mengerti, mengahargai, dan bila perlu menasehati jika memang rasa sukaku
itu berlebihan dan membahayakanku.”
–Nam
Sayang, permintaanku itu terlalu banyak ya? Kamu nggak
harus mapan dulu untuk bertemu denganku. Cukup kamu siap saja. Aku yakin kamu
lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Ayo kita sukses bersama-sama. Aku mau
mendampingimu selalu menuju kesuksesan. Being successful together with you,
it’s my dream. Gimana kalau nanti kita lanjutkan S2 bareng-bareng? Ah, itu
pasti seru – ya asal punya uang *kedipin mata lagi*
***
*menarik napas panjang*
Sayang, sebenarnya ada hal yang harus kuceritakan ke
kamu. Mmm.. apa sebelumnya kamu pernah patah hati? Dadamu terasa sesak karena
terlalu sedih? Kesedihan karena kamu gagal? Sayang, aku pernah mengalaminya.
Patah hati yang benar-benar patah. Bukan karena putus dari kekasihku yang
terdahulu. Bukan karena orang yang kusukai sudah memiliki kekasih. Bukan itu,
sayang. Tapi, melainkan karena kegagalan – gagal menjaga seseorang yang
kusayangi. Rasa sakit itu sampai sekarang terus membayangiku. *dada
kembali sesak* Kamu pasti bertanya siapa? Kelak, jika kita bertemu,
aku akan menceritakannya kepadamu. Aku janji. Tapi, kamu juga
harus janji untuk tidak menatap iba kepadaku ya? Aku nggak suka dikasihani.
Dan… setelah mendangar kisahku, kelak, kuharap kamu tetap akan berada disisiku.
Tetap memelukku, tetap menatapku dengan tatapan penuh kehangatan itu.
Sayang, apa kabar ibumu? Daritadi aku ngoceh, tapi
belum sempat bertanya tentang kabarnya. Ibu dan bapakku baik-baik saja. Semoga
kedua orang tuamu juga. Jaga mereka baik-baik ya. Aku ingin sekali bisa bertemu
mereka. Kamu punya kakak atau adik? Jika punya, mereka pasti baik sepertimu.
Sayang, bogoshipda. Disini,
celengan rinduku sudah hampir penuh. Ah, tapi jika pun penuh, aku akan membeli
lagi celengan baru. Kelak akan kubawa sebagai penebus untuk pertemuan kita.
Kamu juga, jangan pernah bosan untuk merindukanku ya. Jangan lupa bahagia. Jangan pernah lelah
melangkah – meski tertatih – menujuku. Aku akan selalu menunggumu. Hwaiting,
oppa jjong
tulisan ini terinspirasi dari tulisan penulis favorit
saya, Farah Fatimah (Falafu). Bisa langsung kunjungi halamannya untuk membaca
karyanya -- yang tentu jauh lebih bagus dari tulisan saya -- disini



Subhanallah:")
ReplyDeleteAlhamdulillah :')
Delete