“Aku.. Aku kesini bukan
tiba-tiba. Aku.. Aku sudah lama merencanakan ini semua sejak.. sejak pertama
kali aku mulai menyukaimu.”
What? This is not a dream, is this? Aku sontak terkejut. Dia menyukaiku? Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari segala penantianku? Mengapa baru sekarang?
***
Aku masih diam terpaku
di bangku taman. Lamat-lamat aku menatap wajah lelaki yang dulu sangat aku nantikan
ini. Wajah lelaki yang dulu sangat kurindukan. Dia sekarang masih duduk di
depanku ditemani sahabatnya. Wajah itu masih saja teduh. Aku masih sedikit
terkejut mendengar perkatannya barusan. Dia
menyukaiku?
“Kamu pasti kaget. Maaf
karena sudah terlalu lama membuatmu nungguin aku. Maaf karena terlalu lama
untuk aku mengerti apa yang aku rasakan ke kamu.” Diras – nama lelaki itu –
membetulkan posisi duduknya. Lalu menatap lekat ke arahku. Sejak tadi jari
jemarinya terus digerakkan. Ah, aku bisa membaca kegugupan itu.
“Ara, aku benar-benar
menyukaimu.” Katanya kemudian setelah menghela napas panjang. Aku masih saja
diam tidak percaya. Ya Tuhan, aku harap ini hanya mimpi. Kenapa dia datang
tiba-tiba?
“Lalu?” Kataku kemudian.
“Kamu mau aku ngapain?” Aku benar-benar bingung dengan semua ini. Tiba-tiba dia
memasukkan tangan kanannya ke sakunya. Mencari sesuatu. Dan, ternyata itu
sebuah kotak kecil berwarna merah. Oh, tempat perhiasan sepertinya. What? Apa
dia mau…
“Aku udah lama nyiapin
ini.” Dia lalu menyodorkan kotak itu di depanku.
“Ini apa?”
“Buka deh.” Aku sedikit
ragu membukanya. Dan ya, itu cincin. Indah sekali.
“Aku nggak perlu jelasin
panjang lebar tujuan aku kasih itu ke kamu, ‘kan, Ra?” Dia diam sejenak “Iya,
aku mau kamu jadi pendampingku, My Future Woman.” Aku sontak terkejut. Air
mataku rasanya mau tumpah saat itu juga. Ya Tuhan, kenapa baru sekarang? Aku
memang sempat menantinya. Berharap Tuhan berbaik hati membukakan pintu hatinya
untukku, tapi…
“Telat, Ras.” Kataku
sambil tersenyum tulus ke arahnya. “Hhh… kenapa baru sekarang? Well, itu
bukan salahmu. Mungkin memang Allah nggak berkehendak untuk kita bisa bareng…”
“Maksudmu?” Tanya Diras
memotong pembicaraanku.
“Kamu lihat lelaki
berbaju hitam di sana?” Ujarku sambil menunjuk seorang lelaki yang selama ini
secara tidak langsung selalu menemaniku selama aku berkuliah di kampus ini.
Lelaki dengan mata yang hangat dan senyuman yang meneduhkan.
“Oh, iya, aku kenal dia.
Kamu sekelas sama dia, ‘kan?” Kata Diras dengan nada masih sangat tenang ,
belum mengerti.
“Dia yang diam-diam
selalu ada buat aku. Aku memang nggak pernah menyadari keberadaannya selama
ini. Aku hanya nganggap dia sebagai teman diskusi tentang apa pun. Nggak pernah
lebih. Aku nyaman bareng dia. Tapi, nggak pernah berharap lebih. Karena waktu itu
aku masih nungguin kamu.” Jelasku sambil melihat ke arah Hujan – lelaki yang
tadi kutunjukka kepada Diras.
“Kemarin kami sama-sama
sidang skripsi. Selesai sidang, dia...” Aku menggantungkan kalimatku. Kembali
menatap langit sambil tersenyum. “…Dia melamar aku.” Lanjutku yang disambut
mimic terkejut oleh Diras.
“Iya, Ras. Hujan melamar
aku. Andai kamu datang lebih dulu. Tapi, ya sudahlah, berandai-andai hanya akan
membuang waktu. Useless.” Kataku sambil tersenyum menatap mata Diras.
“Tapi, gimana perasaanmu
ke aku? Kamu benar-benar menyukainya?” Tanya Diras tak percaya.
“Ras, kadang ketika kita
sibuk memikirkan orang lain yang jauh sama kita, kita jadi mengabaikan dia yang
dekat dengan kita. Aku memang sempat menunggumu. Menantimu meski aku nggak tahu
kamu dimana. Aku yakin kamu akan datang. Aku bahkan mengabaikan Hujan. Aku
hanya menganggapnya sebagai teman yang membuatku nyaman.”
“Tapi, Ras, rasa itu
berubah. Ada lelaki baik di depan mataku. Dekaat sekali. Kenapa aku selama ini
mengabaikannya? Iya, Aku menyukainya. Aku ngak akan menerima lamarannya kalau
aku nggak menyukainya. Impianku adalah bisa hidup bahagia dengan seseorang yang
kusanyangi dan menyayangiku. Jadi, bagaimana aku bisa hidup sama dia kelak
kalau aku nggak sayang sama dia?” Kataku menjelaskan ke Diras. Rasanya aku
nggak harus menjelaskan banyak hal ke dia. Itu saja cukup utnuk membuatnya
akhirnya mengerti.
“Kamu bahagia?” Tanyanya
putus asa
“Iya, aku bahagia.”
Jawabku pasti. Bagaimana aku nggak bahagia? Tuhan mempertemukan aku dengan
lelaki yang sangat baik seperti Hujan. Dia lelaki satu-satunya yang memahami
situasiku. Di dekatnya, aku berani bermimpi. Dia memahamiku, menyayangiku juga
keluargaku.
“Setelah wisuda nanti,
kami akan menikah. Datang ya, Ras? Kamu juga, Ta?” Kataku kepada Diras dan
Yutha yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari kami. Aku mengembalikan kotak
cincin itu ke Diras. “Kasih ini ke wanita baik yang memang pantas untukmu.”
Kataku, lalu berpamitan ke mereka. Ada yang harus aku urus. Aku pulang bersama
teman-temanku, buka Hujan. Nggak baik rasanya pulang berduaan dengan dia. Nanti
malah ada fitnah.
Diras, aku memang pernah
menunggumu. Aku dulu sangat menyukaimu. Aku bahkan sempat berkhayal kelak kamu
akan datang dan menyatakan cinta ke aku, melamarku. Tapi, Ras, sejak tahu kamu
punya kekasih, sejak itu juga aku nyerah nungguin kamu. Kini ada Hujan, yang
insha Allah akan jadi suamiku. Aku bahagia akan hal itu. Semoga kamu juga
bahagia.
NP:
Ini bisa dibilang ada
kaitannya dengan dua cerita yang saya posting sebelumnya, DIA dan DIA: FInally... We Meet. Thank you for
reading
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)