Monday, 8 December 2014

DIA: Decision

“Aku.. Aku kesini bukan tiba-tiba. Aku.. Aku sudah lama merencanakan ini semua sejak.. sejak pertama kali aku mulai menyukaimu.”

What? This is not a dream, is this? Aku sontak terkejut. Dia menyukaiku? Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari segala penantianku? Mengapa baru sekarang?


***

Aku masih diam terpaku di bangku taman. Lamat-lamat aku menatap wajah lelaki yang dulu sangat aku nantikan ini. Wajah lelaki yang dulu sangat kurindukan. Dia sekarang masih duduk di depanku ditemani sahabatnya. Wajah itu masih saja teduh. Aku masih sedikit terkejut mendengar perkatannya barusan. Dia menyukaiku?

“Kamu pasti kaget. Maaf karena sudah terlalu lama membuatmu nungguin aku. Maaf karena terlalu lama untuk aku mengerti apa yang aku rasakan ke kamu.” Diras – nama lelaki itu – membetulkan posisi duduknya. Lalu menatap lekat ke arahku. Sejak tadi jari jemarinya terus digerakkan. Ah, aku bisa membaca kegugupan itu.

“Ara, aku benar-benar menyukaimu.” Katanya kemudian setelah menghela napas panjang. Aku masih saja diam tidak percaya. Ya Tuhan, aku harap ini hanya mimpi. Kenapa dia datang tiba-tiba?

“Lalu?” Kataku kemudian. “Kamu mau aku ngapain?” Aku benar-benar bingung dengan semua ini. Tiba-tiba dia memasukkan tangan kanannya ke sakunya. Mencari sesuatu. Dan, ternyata itu sebuah kotak kecil berwarna merah. Oh, tempat perhiasan sepertinya. What? Apa dia mau…

“Aku udah lama nyiapin ini.” Dia lalu menyodorkan kotak itu di depanku.

“Ini apa?”

“Buka deh.” Aku sedikit ragu membukanya. Dan ya, itu cincin. Indah sekali.

“Aku nggak perlu jelasin panjang lebar tujuan aku kasih itu ke kamu, ‘kan, Ra?” Dia diam sejenak “Iya, aku mau kamu jadi pendampingku, My Future Woman.” Aku sontak terkejut. Air mataku rasanya mau tumpah saat itu juga. Ya Tuhan, kenapa baru sekarang? Aku memang sempat menantinya. Berharap Tuhan berbaik hati membukakan pintu hatinya untukku, tapi…

“Telat, Ras.” Kataku sambil tersenyum tulus ke arahnya. “Hhh… kenapa baru sekarang? Well, itu bukan salahmu. Mungkin memang Allah nggak berkehendak untuk kita bisa bareng…”

“Maksudmu?” Tanya Diras memotong pembicaraanku.

“Kamu lihat lelaki berbaju hitam di sana?” Ujarku sambil menunjuk seorang lelaki yang selama ini secara tidak langsung selalu menemaniku selama aku berkuliah di kampus ini. Lelaki dengan mata yang hangat dan senyuman yang meneduhkan.

“Oh, iya, aku kenal dia. Kamu sekelas sama dia, ‘kan?” Kata Diras dengan nada masih sangat tenang , belum mengerti.

“Dia yang diam-diam selalu ada buat aku. Aku memang nggak pernah menyadari keberadaannya selama ini. Aku hanya nganggap dia sebagai teman diskusi tentang apa pun. Nggak pernah lebih. Aku nyaman bareng dia. Tapi, nggak pernah berharap lebih. Karena waktu itu aku masih nungguin kamu.” Jelasku sambil melihat ke arah Hujan – lelaki yang tadi kutunjukka kepada Diras.

“Kemarin kami sama-sama sidang skripsi. Selesai sidang, dia...” Aku menggantungkan kalimatku. Kembali menatap langit sambil tersenyum. “…Dia melamar aku.” Lanjutku yang disambut mimic terkejut oleh Diras.

“Iya, Ras. Hujan melamar aku. Andai kamu datang lebih dulu. Tapi, ya sudahlah, berandai-andai hanya akan membuang waktu. Useless.” Kataku sambil tersenyum menatap mata Diras.

“Tapi, gimana perasaanmu ke aku? Kamu benar-benar menyukainya?” Tanya Diras tak percaya.

“Ras, kadang ketika kita sibuk memikirkan orang lain yang jauh sama kita, kita jadi mengabaikan dia yang dekat dengan kita. Aku memang sempat menunggumu. Menantimu meski aku nggak tahu kamu dimana. Aku yakin kamu akan datang. Aku bahkan mengabaikan Hujan. Aku hanya menganggapnya sebagai teman yang membuatku nyaman.”

“Tapi, Ras, rasa itu berubah. Ada lelaki baik di depan mataku. Dekaat sekali. Kenapa aku selama ini mengabaikannya? Iya, Aku menyukainya. Aku ngak akan menerima lamarannya kalau aku nggak menyukainya. Impianku adalah bisa hidup bahagia dengan seseorang yang kusanyangi dan menyayangiku. Jadi, bagaimana aku bisa hidup sama dia kelak kalau aku nggak sayang sama dia?” Kataku menjelaskan ke Diras. Rasanya aku nggak harus menjelaskan banyak hal ke dia. Itu saja cukup utnuk membuatnya akhirnya mengerti.

“Kamu bahagia?” Tanyanya putus asa

“Iya, aku bahagia.” Jawabku pasti. Bagaimana aku nggak bahagia? Tuhan mempertemukan aku dengan lelaki yang sangat baik seperti Hujan. Dia lelaki satu-satunya yang memahami situasiku. Di dekatnya, aku berani bermimpi. Dia memahamiku, menyayangiku juga keluargaku.

“Setelah wisuda nanti, kami akan menikah. Datang ya, Ras? Kamu juga, Ta?” Kataku kepada Diras dan Yutha yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari kami. Aku mengembalikan kotak cincin itu ke Diras. “Kasih ini ke wanita baik yang memang pantas untukmu.” Kataku, lalu berpamitan ke mereka. Ada yang harus aku urus. Aku pulang bersama teman-temanku, buka Hujan. Nggak baik rasanya pulang berduaan dengan dia. Nanti malah ada fitnah.

Diras, aku memang pernah menunggumu. Aku dulu sangat menyukaimu. Aku bahkan sempat berkhayal kelak kamu akan datang dan menyatakan cinta ke aku, melamarku. Tapi, Ras, sejak tahu kamu punya kekasih, sejak itu juga aku nyerah nungguin kamu. Kini ada Hujan, yang insha Allah akan jadi suamiku. Aku bahagia akan hal itu. Semoga kamu juga bahagia.

NP:
Ini bisa dibilang ada kaitannya dengan dua cerita yang saya posting sebelumnya, DIA dan DIA: FInally... We Meet. Thank you for reading


No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)