Monday, 29 December 2014

Sumber Kekuatan


“Mulai saat ini, latih dirimu untuk tidak terlalu banyak bicara. Seberapa pun kamu ingin bercerita. Seberapa pun kamu ingin berkomentar—karena merasa ada yang salah. Seberapa pun kamu ingin didengarkan. Biasakan untuk berbicara sekedarnya saja. Ada hal-hal yang lebih baik jika kamu hanya diam. Abaikan perasaanmu, utamakan perasaan mereka. Tahan, jangan sampai ada yang terluka. Jika pun ada, cukup itu kamu saja. Menangis, menangislah sendiri. Jangan biarkan mereka tahu. Mengerti, mulailah lebih mengerti dari sekarang, tak peduli seberapa pun sulitnya.” —Sajak  monologku pada diri sendiri.

***

Ada banyak sekali kejadian di dunia ini—baik itu yang menimpamu atau orang lain—yang pada akhirnya memaksamu untuk bersikap lebih dewasa. Entah memang sudah saatnya untukmu bersikap dewasa, atau keadaan yang memaksamu untuk itu. Tapi lagi-lagi, kedewasaan bukan hanya soal umur. Bukan hanya soal kesiapan. Belakangan ini aku menjadi lebih mengerti betapa aku harus bersikap lebih dewasa. Segala hal yang terjadi membuatku sadar untuk lebih mengerti. Kedewasaan itu banyak bentuknya, bukan sekedar bahwa orang dewasa tidak boleh menangis, sama sekali bukan. Bahkan akhir-akhir ini aku sering menangis—sendiri.

Kedewasaan itu tentang bagaimana kita bersikap agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Iya, bagaimana menjaga perasaan orang lain, meski harus mengorbankan perasaan sendiri. Bagaimana cara menghadapi masalah, sebesar apa pun. Bagaimana menahan diri. Bagaimana menangis agar tidak diketahui orang. Bagaimana menyimpan permasalahan seorang diri. Aku belajar banyak tentang itu belakangan ini.

Aku baru saja selesai menangis sejadi-jadinya. Karena lagi-lagi aku menyadari bahwa aku belum cukup dewasa untuk mengikhlaskan yang telah terjadi. Lagi-lagi aku mengecewakan mama. Aku seseorang yang pantang sekali menceritakan tentang keluargaku dimanapun dan kepada siapa pun—yang bukan benar-benar sahabat yang kupercaya. Jadi aku tidak mau menjelaskan detail kenapa aku mengecewakannya. Tapi, pastinya, dulu, ketika kami ditempa cobaan yang begitu berat, ketika aku menangis sejadi-jadinya di kamar, beliau datang memelukku dan berkata, “Kamu adalah sumber kekuatan mama”. Saat itu aku semakin menangis, bukan karena semakin sedih, tapi karena menyadari tentang betapa bodohnya aku. Aku yang seharusnya menguatkannya, malah terbalik beliau yang menguatkanku.


Malam ini aku menangis lagi. Membuat beliau sedih lagi. Perkataan beliau itu tiba-tiba memperingatkan kalau aku harus kuat. Seberapa pun masa lalu menghantuiku. Seberapa pun sakitnya ketidakikhlasan melemahkanku. Seberapa pun hatiku sakit. Seberapa kuat pun energi yang harus kukerahkan untuk menahan rasa sesak di hati. Aku harus kuat. Ya, karena aku adalah sumber kekuatannya.

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading my post :)