“Mulai saat ini, latih dirimu untuk tidak terlalu
banyak bicara. Seberapa pun kamu ingin bercerita. Seberapa pun kamu ingin
berkomentar—karena merasa ada yang salah. Seberapa pun kamu ingin didengarkan.
Biasakan untuk berbicara sekedarnya saja. Ada hal-hal yang lebih baik jika kamu
hanya diam. Abaikan perasaanmu, utamakan perasaan mereka. Tahan, jangan sampai
ada yang terluka. Jika pun ada, cukup itu kamu saja. Menangis, menangislah
sendiri. Jangan biarkan mereka tahu. Mengerti, mulailah lebih mengerti dari
sekarang, tak peduli seberapa pun sulitnya.” —Sajak monologku pada diri sendiri.
Ada banyak sekali kejadian di dunia ini—baik itu yang
menimpamu atau orang lain—yang pada akhirnya memaksamu untuk bersikap lebih
dewasa. Entah memang sudah saatnya untukmu bersikap dewasa, atau keadaan yang
memaksamu untuk itu. Tapi lagi-lagi, kedewasaan bukan hanya soal umur. Bukan
hanya soal kesiapan. Belakangan ini aku menjadi lebih mengerti betapa aku harus
bersikap lebih dewasa. Segala hal yang terjadi membuatku sadar untuk lebih
mengerti. Kedewasaan itu banyak bentuknya, bukan sekedar bahwa orang dewasa
tidak boleh menangis, sama sekali bukan. Bahkan akhir-akhir ini aku sering
menangis—sendiri.
Kedewasaan itu tentang bagaimana kita bersikap agar
tidak menyinggung perasaan orang lain. Iya, bagaimana menjaga perasaan orang
lain, meski harus mengorbankan perasaan sendiri. Bagaimana cara menghadapi
masalah, sebesar apa pun. Bagaimana menahan diri. Bagaimana menangis agar tidak
diketahui orang. Bagaimana menyimpan permasalahan seorang diri. Aku belajar
banyak tentang itu belakangan ini.
Aku baru saja selesai menangis sejadi-jadinya. Karena
lagi-lagi aku menyadari bahwa aku belum cukup dewasa untuk mengikhlaskan yang
telah terjadi. Lagi-lagi aku mengecewakan mama. Aku seseorang yang pantang
sekali menceritakan tentang keluargaku dimanapun dan kepada siapa pun—yang
bukan benar-benar sahabat yang kupercaya. Jadi aku tidak mau menjelaskan detail
kenapa aku mengecewakannya. Tapi, pastinya, dulu, ketika kami ditempa cobaan
yang begitu berat, ketika aku menangis sejadi-jadinya di kamar, beliau datang
memelukku dan berkata, “Kamu adalah
sumber kekuatan mama”. Saat itu aku semakin menangis, bukan karena semakin
sedih, tapi karena menyadari tentang betapa bodohnya aku. Aku yang seharusnya
menguatkannya, malah terbalik beliau yang menguatkanku.
Malam ini aku menangis lagi. Membuat beliau sedih lagi.
Perkataan beliau itu tiba-tiba memperingatkan kalau aku harus kuat. Seberapa
pun masa lalu menghantuiku. Seberapa pun sakitnya ketidakikhlasan melemahkanku.
Seberapa pun hatiku sakit. Seberapa kuat pun energi yang harus kukerahkan untuk
menahan rasa sesak di hati. Aku harus kuat. Ya, karena aku adalah sumber
kekuatannya.
No comments:
Post a Comment
Thank you for reading my post :)