Monday, 1 December 2014

Dear My Future Husband


Apa kabar, sayang? Masih selalu baik-baik saja, ‘kan? Maaf karena aku baru mengirim kabar kepadamu. Aku baik-baik saja disini, jangan khawatir. Aku sudah lama merindukanmu. Apakah kamu juga? Ah iya, kita sudah pernah membahas tentang ini. Kita sama-sama memendam rindu. Namun belum waktunya untuk bersua. Sabar. Itu yang selalu kamu ucapkan setiap kali aku teriakkan kata rindu. Ya, aku akan bersabar. Kita sudah berjanji akan saling menanti, bukan? Aku akan menantimu disini, tidak hanya diam, tapi aku akan berusaha memantaskan diri untukmu. Dan kamu, yang entah dimana, aku yakin juga begitu.

Kelak, sebelum kita nikah, kamu tahu apa yang wajib kamu bawa untuk hantaran, ‘kan? Iya, sebuah buku. Novel lebih tepatnya dari penulis favoritku. Jika aku telah menjadi istrimu, kamu  ingin aku panggil apa? Aa’, mas, hubby, sayang, atau oppa? Atau aku memanggilmu dengan semua sebutan itu? Kamu tidak keberatan ‘kan? But I prefer to Aa’ *kedipin mata*

Aku ingin kita memiliki rumah sendiri. Sederhana saja. Dua lantai dengan balkon yang cukup luas di lantai dua. Aku ingin melihat bintang bersamamu dari sana. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu pun tidak apa. Aku justru suka. Karena lantai kayu membuat rumah terasa lebih sejuk. Aku selalu suka, seperti rumah nenek di kampung sana. Tapi katanya rumah dari kayu justru lebih mahal ya? 

Ada halaman yang cukup luas untuk kita dan anak kita kelak bisa bermain-main. Ngomong-ngomong tentang anak, aku ingin kita memiliki lima anak. Empat orang kakak laki-laki dan satu orang perempuan. Kebanyakan ya, lima? Aku ingin rumah kita menjadi ramai. Itu saja. Aku juga ingin berkebun di halaman yang tidak begitu luas itu. Aku ingin mengajarkan anak kita untuk mencintai lingkungan. Mencintai alam. Kita bisa sesekali memasang tenda di halaman rumah kita kelak. Semacam camping. Tidak perlu ada api unggun untuk menghangatkan tubuh kita. Kebahagian kita cukup untuk membuat tubuh merasa hangat. Oiya, kita akan memasang layar putih yang cukup lebar lalu menyalakan proyektor dan memutar film kesukaan kita – semacam layar tancap. Atau kamu memainkan gitar, aku dan anak-anak yang bernyanyi.

imgfave.com

Kelak, di rumah kecil kita, aku ingin ada sebuah library dengan desain minimalis. Sudah lama aku ingin memiliki rak buku yang dipenuhi banyak buku, tidak hanya novel. Mengenai bukunya, kamu nggak harus langsung membelikan banyak buku untukku. Biarkan library itu diisi dengan koleksi bukuku yang sekarang. Aku akan mencicil setiap bulan minimal satu buku untuk membuat rak-rak buku itu menjadi penuh. Kamu tahu aku sangat senang membaca dan selalu merasa ceria melihat banyak buku tersusun di rak, ‘kan? Aku ingin mengajarkan anak kita untuk menyukai buku. Agar mereka gemar membaca buku. Agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bijak dan berwawasan luas.

imgfave.com
Ada dapur yang sederhana saja. Yang penting cukup untuk aku bisa setiap hari memasak untukmu. Aku harap kamu bukan tipikal orang yang memilih-milih makanan. Aku akan membuatkanmu sarapan setiap pagi. Atau kamu ingin membawa bekal ke kantor? Aku akan dengan senang hati menyiapkannya. Aku ingin menjadi ibu rumah tangga. Aku ingin fokus menjadi istri yang baik dan ibu yang baik. Atau jika boleh, aku ingin menjadi guru. Mengapa guru? Karena guru nggak harus berada di sekolah dari pagi sampai sore. Dengan begitu aku masih punya banyak waktu untuk mengurus rumah. Masih punya waktu untuk membuatkanmu makan malam.

imgfave.com
Kalau ada waktu luang , aku ingin kita bisa pergi ke bioskop. Nonton film, yang bukan film horror, bersama-sama. Kencan seperti anak muda pada umumnya. Aku belum pernah nonton bersama someone special sebelumnya. Biar sama kamu saja, kencan yang halal. Meski mungkin selera kita akan film berbeda. Kamu mungkin suka action aku suka drama romantic. Kamu mungkin suka Hollywood, aku suka Korea. Tapi itu justru yang membuat hubungan menjadi indah. Saling mengerti. Sekali-kali aku akan menonton film favoritmu, dan kamu pun sebaliknya, sekali-kali menonton film atau drama favoritku. Tapi aku nggak akan paksa kamu menyukai apa yang aku suka. Aku cukup diplomatis, ‘kan?

“Karena, untuk bersamaku, kamu nggak harus menyukai apa yang aku suka. Aku tahu itu tidak mudah. Cukup kamu mengerti, mengahargai, dan bila perlu menasehati jika memang rasa sukaku itu berlebihan dan membahayakanku.”
–Nam

Sayang, permintaanku itu terlalu banyak ya? Kamu nggak harus mapan dulu untuk bertemu denganku. Cukup kamu siap saja. Aku yakin kamu lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Ayo kita sukses bersama-sama. Aku mau mendampingimu selalu menuju kesuksesan. Being successful together with you, it’s my dream. Gimana kalau nanti kita lanjutkan S2 bareng-bareng? Ah, itu pasti seru – ya asal punya uang *kedipin mata lagi*

***

*menarik napas panjang*

Sayang, sebenarnya ada hal yang harus kuceritakan ke kamu. Mmm.. apa sebelumnya kamu pernah patah hati? Dadamu terasa sesak karena terlalu sedih? Kesedihan karena kamu gagal? Sayang, aku pernah mengalaminya. Patah hati yang benar-benar patah. Bukan karena putus dari kekasihku yang terdahulu. Bukan karena orang yang kusukai sudah memiliki kekasih. Bukan itu, sayang. Tapi, melainkan karena kegagalan – gagal menjaga seseorang yang kusayangi. Rasa sakit itu sampai sekarang terus membayangiku. *dada kembali sesak* Kamu pasti bertanya siapa? Kelak, jika kita bertemu, aku akan menceritakannya kepadamu. Aku janji. Tapi, kamu juga harus janji untuk tidak menatap iba kepadaku ya? Aku nggak suka dikasihani. Dan… setelah mendangar kisahku, kelak, kuharap kamu tetap akan berada disisiku. Tetap memelukku, tetap menatapku dengan tatapan penuh kehangatan itu. 

Sayang, apa kabar ibumu? Daritadi aku ngoceh, tapi belum sempat bertanya tentang kabarnya. Ibu dan bapakku baik-baik saja. Semoga kedua orang tuamu juga. Jaga mereka baik-baik ya. Aku ingin sekali bisa bertemu mereka. Kamu punya kakak atau adik? Jika punya, mereka pasti baik sepertimu.

Sayang, bogoshipda. Disini, celengan rinduku sudah hampir penuh. Ah, tapi jika pun penuh, aku akan membeli lagi celengan baru. Kelak akan kubawa sebagai penebus untuk pertemuan kita. Kamu juga, jangan pernah bosan untuk merindukanku ya. Jangan lupa bahagia. Jangan pernah lelah melangkah – meski tertatih – menujuku. Aku akan selalu menunggumu. Hwaiting, oppa jjong

tulisan ini terinspirasi dari tulisan penulis favorit saya, Farah Fatimah (Falafu). Bisa langsung kunjungi halamannya untuk membaca karyanya -- yang tentu jauh lebih bagus dari tulisan saya -- disini

2 comments:

Thank you for reading my post :)