Monday, 29 December 2014

Sumber Kekuatan


“Mulai saat ini, latih dirimu untuk tidak terlalu banyak bicara. Seberapa pun kamu ingin bercerita. Seberapa pun kamu ingin berkomentar—karena merasa ada yang salah. Seberapa pun kamu ingin didengarkan. Biasakan untuk berbicara sekedarnya saja. Ada hal-hal yang lebih baik jika kamu hanya diam. Abaikan perasaanmu, utamakan perasaan mereka. Tahan, jangan sampai ada yang terluka. Jika pun ada, cukup itu kamu saja. Menangis, menangislah sendiri. Jangan biarkan mereka tahu. Mengerti, mulailah lebih mengerti dari sekarang, tak peduli seberapa pun sulitnya.” —Sajak  monologku pada diri sendiri.

***

Monday, 8 December 2014

DIA: Decision

“Aku.. Aku kesini bukan tiba-tiba. Aku.. Aku sudah lama merencanakan ini semua sejak.. sejak pertama kali aku mulai menyukaimu.”

What? This is not a dream, is this? Aku sontak terkejut. Dia menyukaiku? Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari segala penantianku? Mengapa baru sekarang?

Monday, 1 December 2014

Dear My Future Husband


Apa kabar, sayang? Masih selalu baik-baik saja, ‘kan? Maaf karena aku baru mengirim kabar kepadamu. Aku baik-baik saja disini, jangan khawatir. Aku sudah lama merindukanmu. Apakah kamu juga? Ah iya, kita sudah pernah membahas tentang ini. Kita sama-sama memendam rindu. Namun belum waktunya untuk bersua. Sabar. Itu yang selalu kamu ucapkan setiap kali aku teriakkan kata rindu. Ya, aku akan bersabar. Kita sudah berjanji akan saling menanti, bukan? Aku akan menantimu disini, tidak hanya diam, tapi aku akan berusaha memantaskan diri untukmu. Dan kamu, yang entah dimana, aku yakin juga begitu.

Thursday, 20 November 2014

Love in Silence #1

Intan

Hari ini aku kembali kuliah setelah kemarin tidak masuk karena sakit. Keadaan di kampus masih sama, datar, nggak ada hal yang special selain ilmu dan mungkin dia. Dia yang entah sejak kapan aku mulai menambahkannya sebagai penyemangat untukku berkuliah. Dia yang entah dengan cara apa membuatku ingin selalu melihat wajahnya, meski dengan cara harus curi-curi pandang. Diam-diam aku mulai menaruh harap kepadanya.

Wednesday, 12 November 2014

Komitmen

Menikah. Dulu, ketika kelas XII, aku selalu antusias jika di mata pelajaran agama membahas tentang menikah. Bukan hanya aku, rasanya semua teman antusias. Dari yang sebelumnya ngantuk jika belajar Agama, tiba-tiba menjadi begitu semangat jika memasuki bab tentang pernikahan. Aku bahkan sempat mengajukan sebuah pertanyaan retorik, "kenapa nggak ada ujian praktek pernikahan?"

Itu dua tahun yang lalu, ketika usiaku masih delapan belas. Ketika itu aku berkhayal bisa menikah di usia dua puluh. Kemudian langsung mengandung. Aku ingin memiliki anak di usia muda. Aku ingin jarak usiaku dan anakku kelak tidak begitu jauh. Agar hubungan kami tidak kaku, bahkan bisa menjadi seperti sahabat. Aku terinspirasi dari mamaku. Beliau masih sangat muda. Jika baru melihatnya, pasti mengira jika beliau adalah kakakku. Ya, dulu aku ingin sekali menikah muda.

Wednesday, 15 October 2014

Aku Bermimpi

Aku bermimpi suatu hari kita memiliki waktu untuk menjadi lebih dekat,
sedikit saja
Aku dan kamu berbicara tentang banyak hal
Aku akan bertanya apa impianmu
Lalu kamu tersenyum dan menjawabnya dengan penuh keyakinan
Kamu pun bertanya apa impianku
Aku pun sama, tersenyum dan menceritakannya dengan penuh semangat kepadamu

Aku bermimpi suatu saat kita bisa cerita akan banyak hal
Bercerita hingga tak terasa hari beranjak petang
Berbagi mimpi,
Berbagi harapan

Monday, 22 September 2014

Seseorang di Masa Lalu

Apa kamu masih terkadang—atau bahkan sering—mengingat mereka yang telah berlalu dari hidupmu? Entah karena melihat fotonya atau tiba-tiba aja dia terlintas dipikiran? Aku pernah. Mengingat mereka yang sudah lama berlalu, entah itu meninggalkan luka atau bahagia, atau mereka yang sengaja aku lupakan. Sengaja melupakan? Ya, semacam berhenti berharap. Move on.

Entah kenapa tiba-tiba bayangannya muncul. Dia memang sudah tidak istimewa lagi di hati ini. Sungguh tidak. Aku sudah lama menghapusnya dari harapku. Dia yang dulu sangat aku kagumi. Dia yang pernah setengah mati kusayangi. Dia yang pernah memberikan senyum sekaligus tangis di hidupku. Aku pernah ketika itu berkhayal tentang masa depan kami. Betapa indahnya jika kami bisa bersama hingga kelak. Ah, khayalan yang sangat tinggi, mengingat ketika itu usiaku masih belasan, baru kelas X SMA.

Monday, 25 August 2014

Menyebut Namanya

Suatu hari, saya berbincang dengan salah satu sahabat saya. Obrolan kami ketika itu cukup menarik. Tentang menyebutkan nama seseorang dalam doa kita. Bersimpuh pada-Nya agar dijodohkan dengan dia. Apa kata sahabatku?

“Kita boleh aja nyebut namanya di doa kita. Berharap dia jodoh kita. Tapi, apa kita benar-benar telah mengenalnya? Jangan-jangan dia sifatnya jelek. Lalu Allah mengabulkan doa kita. Kita berjodoh sama dia. Eh, ketika dijalani kita menyesal. Menyesal karena sifatnya tidak sebaik yang kita duga.”

Saya menganggukkan kepala mencoba menyerap apa yang dia katakan. Iya ya? Pikir saya dalam hati. Lalu dia bilang lagi.

Monday, 11 August 2014

Best Friend Series #1

Di setiap masa dalam hidup, kita akan selalu mengalami dua hal; pertemuan dan perpisahan. Bertemu seseorang yang baru, menjadi teman, sahabat, lalu berpisah, bertemu seseorang yang baru lagi, berteman, bersahabat, lalu berpisah, selalu begitu. Ah, aku benci kata P E R P I S A H A N. Tapi, seharusnya meski telah berpisah dan bertemu dengan teman baru, sahabat lama tetaplah sahabat, ‘kan? Ya, seharusnya.

Setelah bulan Mei, selalu disusul dengan bulan Juni. Tak pernah terpisah. Begitu pun aku dengan salah seorang sahabatku yang akan kuceritakan kepada kalian. Iya, dia lahir di bulan Mei, aku lahir di bulan Juni. Kami memang tak pernah terpisah waktu SMP dulu. Sama seperti sahabatku yang kuceritakan lebih dulu, aku dan sahabat perempuanku ini selalu satu kelas sejak kelas VII sampai kelas IX. Dia sahabatku yang sangat cerdas. Sudah kuberitahu kan, kalau sahabat-sahabatku di SMP itu cerdas-cerdas? Termasuk dia. 

Monday, 14 July 2014

Wanita itu...

Dia adalah wanita yang sama dengan wanita lain. Dia berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Menyusun semua rencana kehidupan untuk masa depannya. Dia wanita yang ceria, meski sedikit pendiam, namun dia bisa sedikit cerewet dalam situasi dan orang-orang tertentu. Seharusnya dia bisa memiliki banyak teman, dia cukup percaya diri, namun tidak semua orang bisa membuatnya nyaman menjadi dirinya sendiri. Baginya, teman yang baik adalah mereka yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri, seburuk apa pun dirinya. Karenanya, saat dia tidak banyak memiliki teman dekat. Hanya ada beberapa teman di dekat rumahnya.

Wednesday, 21 May 2014

DIA: Finally.. We Meet

Apa kabar, kamu? Sudah lima tahun berlalu, namun jejakmu pun masih samar kurasakan..


Lagi, aku bermonolog dalam hati. Ya, tiba-tiba kau mengingatnya. Tapi kali ini nggak disertai rasa sesak karena rindu. Aku memang sering begini, tiba-tiba teringat dengan orang-orang yang pernah ada di hidupku. Lalu mendoakan untuk kebahagiaan mereka. Hanya sebatas itu. Seperti saat ini. Aku seperti biasa duduk sendiri di bangku taman kampus, favoritku. Menikmati udara sejuk dari pohon-pohon di sekitar taman. Sambil membaca novel ditemani musik favoritku.

Monday, 19 May 2014

Dia Januari

Ini Januari kedua Januari menghilang tanpa kabar.

Dia Januari – sosok yang segala tentangnya begitu abu-abu. Apa kabar, kamu? Hebat sekali kau, menghilang setelah mengukir rasa di sini, hatiku. Bersembunyi dimana selama ini, hah? Tidak kah kau lelah berlari? Kumohon, berhentilah sejenak. Sejenak saja. Tak apa jika tak menetap disini. Tak apa jika hanya sekadar singgah. Tak apa jika masih sama seperti dulu, tanpa senyum apalagi sapa. Bukankah aku sudah sangat terbiasa dengan sisi gelapmu? Tak apa, cukup kau datang meski hanya semenit, itu sudah melegakan. Asal aku tahu kau baik-baik saja.

Thursday, 13 March 2014

Kadang, Aku Ingin

Kadang, aku ingin bisa bertemu dengan seseorang di tempat favoritku di suatu hari tanpa nama. Kami saling bertukar senyum, saling menyapa, lalu kami mengobrol santai. Membicarakan banyak hal yang sudah terlewat semenjak kami berpisah. Menanyakan kabar ayah dan ibunya. Apakah mereka baik-baik saja? - meskipun nggak pernah bertemu dengan keduanya. Tapi bagiku itu perlu, karena dia penting bagiku, dan orang tuanya pun juga penting.

Kadang, aku ingin punya pasangan yang disebut 'pacar'. Saling menyapa di media sosial. Memanggilnya "sayang" tanpa memikirkan apakah orang lain akan risih dengan kami. Aku ingin berbagi setiap momentku bersamanya.

Sunday, 2 March 2014

Maret

Selamat Pagi, Maret..
Kita bertemu lagi. Ini Maret kedua puluh dalam hidupku. Maret kedua dalam penantianku. Iya, Aku masih sama seperti dulu. Masih setia dengan hal yang sama. Januari ku menanti, Februari ku merintih. Maret? Aku kembali menunggu, menantinya, bolehkah? Hmm, terima kasih untuk tak lelah memberiku kesempatan menunggu di sisi harimu. Kau tak marahkan aku menunggunya?

Tenang, aku takkan mengajakmu berlari seperti Februari. Tidak, aku lelah. Terima kasih sudah membebaskanku dari Februari yang menyesakkan. Aku berharap bisa bernapas lebih lega disisi harimu. Sesederhana itu. :')

Saturday, 15 February 2014

Bertemu *palsu*

Hari ini aku gak bawa bekal – lagi. Bosen juga dengan makanan di sekitar kantor. Jadi, pergi makan keluar deh. Nah, pengen banget makan pangsit, jadi kami memilih makan di Bakso Pangsit Wardoyo yang terletak di Ring Road. Sampai disana, langsung kaget dan berdebar-debar gitu. Karena apa? Yang pastinya bukan karena ngeliat Lee Seung Gi atau Bambang Pamungkas atau pun hantu di siang bolong gini. Tapi… karena liat seseorang yang… Cumi, CUMA MIRIP. Pandangan pertama, kaget. Pandangan kedua, yang bener? Pandangan ketiga, Alhamdulillah, bukan dia.

Oh My God! Cuma mirip doang langsung berasa gemetar gitu. Gimana kalo dia yang asli? MasyaAllah..

Tuesday, 11 February 2014

#Jleb: Dari Tere Liye


Bukankah,
Banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
Yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
“Jadi, jawaban apa yang harus diberikan?”

Bukankah,
Banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
Yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
“Aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?”

Wednesday, 15 January 2014

Bertemu (Khayalan)

Kamu percaya pada takdir? Aku percaya. Selalu berusaha percaya, tepatnya.

Hari itu, bulan Oktober. Di Sabtu siang, hari yang seharusnya aku diam di rumah. Menikmati liburan seperti Sabtu-Sabtuku yang biasanya. Tapi hari itu berbeda. Aku harus ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas kuliah bersama teman. Aku selalu senang menuju tempat itu, tempat favoritku. Aku selalu – diam-diam – berharap bisa bertemu dengannya di sana.

Saturday, 4 January 2014

Skenario Terbaik

Engkau tahu, duhai tetes air hujan, kering sudah air mata, tidur tak nyenyak, makan tak enak, tersenyum penuh sandiwara, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya. 


Engkau tahu, duhai gemerisik angin,kalau boleh, ingin kutitipkan banyak hal padamu, sampaikan padanya sepotong kata, tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan melihat semuanya.